Belajar ke Negeri Sakura, Penguatan Mitigasi Berbasis Ekosistem untuk Ketahanan Bencana

IMG-20250206-WA0006
Dr. I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, S.STP., M.Si., antusias menimba ilmu mitigasi ketahanan bencana di tengah suhu dingin ekstrem Jepang.

Ia menambahkan, pembelajaran lain yang berkesan adalah bertemu langsung dengan Prof. Khawasiwa dan Ono San, penyintas tsunami dahsyat 2011 di Fukushima-Sendai.

"Dari pengalaman mereka, terlihat bahwa negara dengan sistem manajemen bencana yang sangat maju pun seperti Jepang masih menghadapi tantangan besar saat bencana terjadi," imbuh Gede Teja.

Perkiraan ketinggian tsunami dari hasil kajian sebelumnya 6-7 meter, namun ternyata tahun 2011 itu ketinggianya 11 meter.

Meski langkah-langkah mitigasi dilakukan, akhirnya jumlah korban meninggal mencapai lebih dari 20 ribu jiwa.

Tentu jumlah ini bisa sangat berbeda cerita bilamana tidak melakukan mitigasi sama sekali.

Sekitar 400 tahun sebelum tsunami 2011 (tahun 1611), wilayah Sendai pernah mengalami tsunami. Oleh karena itu secara berkelanjutan dilakukan mitigasi yang terukur, bahkan mereka menyiapkan tiga lapis teknik menahan gelombang tsunami.

Mulai dari sea wall atau pemecah ombak (4-6 meter), beberapa ratus meter berikutnya dibuat kanal/sungai buatan (± lebar 10 meter), dan beberapa ratus meter berikutya dibuat jalan raya yang ditinggikan (± 6 meter).

Selain itu ruang-ruang kosong diwilayah pesisir ditanami pepohon dengan kerapatan vegetasi tinggi.

Namun tidak cukup dengan itu, aspek lain yang sangat mempengaruhi keselamatan adalah adanya sistem peringatan dini yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat di zona bahaya.

Terlihat Sirine tersebar dengan radius tertentu untuk bisa didengar oleh masyarakat termasuk nelayan.

Bahkan ada cerita menarik dimana nelayan memiliki prosedur evakuasi unik yang terbukti menyelamatkan nyawa mereka, yakni langsung menuju ke tengah laut saat sirine tsunami berbunyi.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top