Warisan seni di keluarga ini tidak berhenti, melainkan terus berubah wujud mengikuti zaman.
Seperti banyak seniman tradisi, nama I Nyoman Mongol perlahan menghilang dari ingatan publik. Ia bukan seniman panggung besar, bukan pula figur yang mengejar sorotan. Ia hadir ketika dibutuhkan, berkarya tanpa banyak catatan, dan pergi tanpa gemuruh.
Hari ini, kisah I Nyoman Mongol mengingatkan kita bahwa seni Bali tidak hanya dibangun oleh nama-nama besar, tetapi juga oleh para empu sunyi mereka yang setia menjaga nyala tradisi dalam keseharian, meski akhirnya terlupakan.
Menghidupkan kembali ingatan tentang mereka bukan sekadar nostalgia, melainkan tanggung jawab budaya.
Penulis: I Gede Made Surya Darma










