Di sela-sela menanam bawang putih, I Nyoman Mongol kerap menghapal ucapan, gending, serta agem gerak tari wijil menjadikan ladang sebagai ruang latihan sunyi.
Pada masa itu, bawang putih dari wilayah ini dikenal sangat subur dan bahkan menjadi percontohan. Hasil dari kerja buruh pertanian inilah yang kemudian digunakan untuk membeli properti pertunjukan arja.
Seni, pada titik ini, jelas bertopang pada kerja kolektif rakyat, bukan pada sokongan institusi atau modal besar.
Ni Nyoman Mandri, selain sebagai petani, juga seorang penari. Kesenian adalah napas keluarga ini dihidupi bersama, bukan dipertontonkan sebagai prestise sosial.
Salah satu karya keseharian I Nyoman Mongol yang paling dikenang adalah panggul dari kayu kemuning, dibuat sepenuhnya dengan tangannya sendiri. Panggul-panggul ini kerap digunakan oleh anak-anak dan sanggar, bahkan oleh pelajar ASTI Bali (kini ISI Bali).
Karyanya tidak ditandai nama, tidak dipamerkan, namun terus hidup dalam bunyi dan irama tabuh generasi berikutnya.
Dalam perjalanan hidupnya, ia juga dikenal sebagai pembuat alat permainan judi tradisional “bola adil”, dibuat sepenuhnya dengan tangan tanpa mesin, dengan presisi sisi yang cermat.
Alat ini digunakannya untuk mencari nafkah di berbagai odalan di pura, maupun di berbagai tempat sabung ayam, salah satunya di Pura Natar Sari Apuan.
Di sela keramaian pertunjukan tari, ia membawa papan bola adil, namun juga selalu siap ngayah membawa ketungan, kotak perlengkapan tari, serta berbagai properti yang kerap dipinjam orang lain. Tak jarang, properti tersebut tak pernah kembali.










