Bali Kehilangan Seniman Arja Senior

IMG-20260106-WA0007
I Nyoman Mongol. (ist)

Bagi Mongol, kehilangan benda bukanlah persoalan besar yang terpenting seni tetap berjalan.

Dalam pementasan tari, ia kerap berpasangan dengan penari Penasar I Riyuh serta Penasar I Nyoman Santa (Walaka), yang juga dikenal sebagai Ida Sri Empu Daksasamyoga.

Hubungan antarseniman ini bukan sekadar kolaborasi panggung, melainkan jaringan hidup tradisi yang terjalin lintas generasi.

Sekitar tahun 1962, seni arja telah mengakar kuat dalam keluarganya, termasuk melalui kakaknya yang juga aktif di dunia arja. Puncak pengabdian keluarga ini pada seni terjadi pada 1990-an, ketika mereka mendirikan Sanggar Burat Wangi sebuah ruang tumbuh seni arja yang menjadi tempat belajar, berkumpul, dan mewariskan nilai-nilai pertunjukan Bali.

Dari keluarga ini lahir generasi yang melanjutkan seni dalam bentuk yang bertransformasi. I Made Adnyana Ole bergerak di bidang sastra, telah menerbitkan banyak buku dan dikenal sebagai wartawan senior pendiri media Tatkala.

Bersama istrinya, I Kadek Sonia Piscayanti sutradara, seniman teater, penulis, dan akademisi mereka membesarkan anak-anak yang juga aktif berkesenian: Putu Putik Padi, pelajar SMA yang aktif menulis cerpen; Kadek Kayu Hujan, yang juga mewarisi darah seni dan sempat memerankan lakon Kusno (Soekarno kecil) dalam pementasan Rai Srimben di Blitar dan Denpasar; I Nyoman Budarsana, penari lulusan ISI Bali, salah satu pendiri Sanggar Burat Wangi, penulis seni dan budaya, serta pengelola media Balih-balihan dan Bali Tourism Now, bersama putranya Amrita Dharma yang menempuh pendidikan film; serta Made Manipuspaka yang mendalami musik di ISI Yogyakarta. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top