Bali Kehilangan Seniman Arja Senior

IMG-20260106-WA0007
I Nyoman Mongol. (ist)

TABANAN-fajarbali.com | NAMA I Nyoman Mongol mungkin kini jarang terdengar dalam percakapan seni Bali kontemporer. Namun bagi dunia arja, tari, dan seni ukir tradisi, ia adalah salah satu seniman wijil seniman yang tumbuh dari tanah, hidup dari laku keseharian, dan berkarya dalam kesunyian. 

Ia bukan bagian dari panggung besar atau institusi resmi, melainkan hadir dalam denyut kehidupan masyarakat adat Bali. Diketahui Mongol tutup usia 2 Januari 2026, dan diaben Selasa 6 Januari 2026.

Lahir di Ole pada sekira tahun 1942, Mongol dikenal sebagai seniman alami. Perjalanan seninya bermula sebagai penari wijil, belajar langsung dari pengalaman kolektif, bukan dari bangku akademik.

Dalam dunia arja, pengetahuan semacam ini adalah pengetahuan hidup diwariskan melalui praktik, pengamatan, dan keterlibatan total dalam kehidupan komunal.

Selain sebagai penari, ia juga dikenal sebagai seniman ukir serta pembuat bade atau wadah peraiapan ngaben, lengkap dengan berbagai properti seni dan perlengkapan upacara adat. 

Dalam kesehariannya, ia hidup bersama istrinya, Ni Nyoman Mandiri (almarhum), juga seorang seniman tari dan petani. Keduanya menjalani laku kesenian yang sepenuhnya menyatu dengan kerja agraris tanpa sekat antara seni, adat, dan kehidupan sehari-hari.

Pada dekade 1960-an, Mongol aktif dalam komunitas arja Cupak, menghidupi kesenian arja bersama berbagai sekaa. Pada masa yang sama, ia dan istrinya terlibat dalam sekaa nandur perkumpulan buruh tani menanam bawang putih dari Desa Marga hingga Senganan, bahkan hingga wilayah tiga kecamatan; Marga, Penebel, dan Baturiti. Mereka berjalan kaki dari ladang ke ladang, bekerja bersama sekha-sekha tani. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top