Tim PkM Unwar Edukasi Krama Subak Dalung tentang Pertanian Berkelanjutan

IMG-20260709-WA0042
Wilayah Subak Saih Dalung, Kuta Utara, Badung dari udara.

MANGUPURA-fajarbali.com | Tim Pengabdian kepada Masyarakat atau PkM  Universitas Warmadewa (Unwar) melaksanakan kegiatan Pemberdayaan Unit Usaha Kewirausahaan Subak Saih Dalung dengan mengusung tema "Penerapan IPTEK Pengelolaan Koperasi, Konservasi Air Irigasi, dan Pengembangan Produk Unggulan Daerah Berbasis Subak."

Kegiatan ini diikuti oleh pengurus dan anggota Subak Saih Dalung sebagai upaya memperkuat kapasitas kelembagaan subak dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor pertanian.

Ketua Tim Pengabdian, Prof. Dr. Ir. I Gusti Agung Putu Eryani, M.T., IPU., ASEAN Eng., dengan anggota dari dosen : Dr. I Ketut Kasta Arya Wijaya, S.H. M.Hum, Dr. Ni. Made Intan Priliandari, S.E.,M.Si dan 2 mahasiswa, memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan lahan subak dari ancaman alih fungsi lahan pertanian.

Prof. Eryani menegaskan bahwa keberadaan subak tidak hanya berperan sebagai sistem irigasi tradisional, tetapi juga menjadi penyangga ketahanan pangan, pelestarian budaya Bali, serta menjaga keseimbangan lingkungan sesuai filosofi Tri Hita Karana.

Seluruh pengurus dan anggota subak diharapkan memiliki komitmen bersama untuk mempertahankan keberadaan lahan sawah agar tidak beralih fungsi menjadi kawasan nonpertanian.

Materi edukasi tersebut juga diperkuat melalui pembagian leaflet mengenai pentingnya perlindungan lahan subak dan dampak alih fungsi lahan terhadap ketahanan air dan pangan.

Selain membahas perlindungan lahan, Prof. Eryani juga memperkenalkan inovasi konservasi air melalui teknologi pemanenan air hujan sebagai solusi atas permasalahan ketersediaan air yang mulai dirasakan oleh Subak Saih Dalung, terutama pada musim kemarau.

Teknologi yang diperkenalkan berupa cubang atau kolam penampungan air yang dilapisi geotekstil, sehingga mampu menampung limpasan air hujan untuk dimanfaatkan kembali sebagai sumber air tambahan ketika debit irigasi menurun.

Sistem pemanenan air hujan ini dinilai sederhana, relatif mudah diterapkan, serta memiliki biaya pembangunan yang lebih terjangkau dibandingkan pembangunan embung permanen, sehingga dapat menjadi alternatif konservasi air bagi lahan pertanian subak.

BACA JUGA:  Rabies Masih Menjadi Ancaman di Kabupaten Gianyar

Konsep tersebut sejalan dengan materi konservasi air yang disampaikan dalam leaflet kegiatan, yaitu memanfaatkan air hujan sebagai cadangan air irigasi guna mendukung keberlanjutan pertanian.

Pada sesi diskusi, Prof. Eryani juga menyoroti pentingnya pengelolaan jaringan irigasi secara partisipatif. Beliau mengimbau agar setiap kerusakan yang terjadi pada saluran irigasi, bangunan bagi, pintu air, maupun infrastruktur pendukung lainnya segera didokumentasikan dengan baik melalui foto, lokasi, dan keterangan kerusakan.

Dokumentasi tersebut kemudian disampaikan kepada instansi terkait agar dapat menjadi dasar dalam proses verifikasi dan tindak lanjut perbaikan. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat penanganan kerusakan jaringan irigasi sehingga distribusi air kepada petani tetap berjalan optimal.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Pengurus dan anggota Subak Saih Dalung aktif menyampaikan berbagai kondisi yang mereka hadapi di lapangan, mulai dari ancaman alih fungsi lahan, penurunan debit air irigasi pada musim kemarau, hingga kebutuhan peningkatan infrastruktur irigasi. Diskusi tersebut menghasilkan berbagai masukan yang akan menjadi bahan tindak lanjut dalam pengembangan program pendampingan berikutnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pengelolaan limbah pertanian, Tim Pengabdian Unwar juga menyerahkan peralatan pembuatan pupuk organik dari sisa jerami padi kepada pengurus Subak Saih Dalung.

Bantuan tersebut meliputi drum fermentasi, sekop, garpu tanah, sapu, ember, serta perlengkapan pendukung lainnya. Melalui bantuan ini diharapkan limbah jerami yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi pupuk organik berkualitas sehingga mampu mengurangi biaya produksi pertanian, meningkatkan kesuburan tanah, serta mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Melalui kegiatan pengabdian ini, Unwar berharap terjalin sinergi yang semakin kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sistem subak sebagai warisan budaya dunia sekaligus penopang ketahanan pangan daerah.

BACA JUGA:  The Nusa Dua Tingkatkan Kelola Kawasan Berbasis Protokol Kesehatan

Penerapan teknologi konservasi air, penguatan kelembagaan subak, serta peningkatan kepedulian terhadap perlindungan lahan pertanian diharapkan mampu meningkatkan ketahanan Subak Saih Dalung dalam menghadapi perubahan iklim dan tekanan pembangunan di masa mendatang. [rel]

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top