Unhi Kampus Inklusif, Dua Disabilitas Turut Diwisuda! Kini Siap Buka Magister Hukum

IMG-20260523-WA0021
Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar kembali menggelar Rapat Senat Terbuka dengan agenda Wisuda di dalam area kampus, Denpasar, Sabtu (23/5/2026).

DENPASAR-fajarbali.com | Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar kembali menggelar Rapat Senat Terbuka dengan agenda Wisuda di dalam area kampus, Denpasar, Sabtu (23/5/2026). Unhi membuktikan diri sebagai kampus inklusif, sebab dua di antara wisudawan/wisudawati merupakan penyandang disabilitas tunadaksa.

Momen ini menjadi sangat bersejarah karena bertepatan dengan hari suci Saniscara Kliwon Wariga (Tumpek Wariga) serta menandai kembalinya pelaksanaan wisuda di lingkungan kampus setelah sekitar delapan tahun depan gelar di tempat lain [hotel].

Rektor Unhi Denpasar, Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E., M.Si., mengungkapkan bahwa momentum wisuda kali ini membawa semangat ekologis yang mendalam bagi seluruh civitas akademika, sekaligus menandai masa bakti baru kepengurusan senat.

Menurut Rektor Unhi pemilihan hari Tumpek Wariga ini diharapkan mampu memberikan filosofi pertumbuhan yang kuat bagi para lulusan dalam menghadapi masa depan.

"Mengapa dipilih saniscara kliwon tumpek wariga? Karena memang ini periode Mei wisuda kami, yang kebetulan disemangati memelihara ekologi ini. Mudah-mudahan mahasiswa, wisudawan, wisudawati bisa tumbuh dan berakar kuat juga di dalam mengembang ilmu pengetahuan, termasuk juga mengarungi perkembangan zaman ke depan," imbuhnya.

Jumlah lulusan yang dilepas pada periode ini mencapai 322 wisudawan yang berasal dari jenjang Strata 1 (S1), Magister (S2), dan Doktor (S3). Keputusan untuk menyelenggarakan kembali prosesi wisuda di dalam kampus setelah sebelumnya sempat dialihkan akibat pandemi Covid-19 dan faktor lainnya memiliki esensi filosofis dan praktis yang kuat bagi UNHI.

"Yang spesial tentu kami kembali menggelar rapat senat terbuka dengan agenda wisuda ini di kampus kami tercinta, di Universitas Hindu Indonesia. Karena sejak sudah mungkin 8 tahun Covid terakhir ya, dan hari ini kita memulai kembali untuk menyelenggarakan wisuda di kampus Tembau," ungkap dia. 

Menurutnya, ada dua tujuan utama di balik kembalinya pelaksanaan wisuda ke dalam area kampus. Selain aspek kesiapan infrastruktur, hal ini berkaitan erat dengan tradisi akademik spiritual yang dipegang teguh oleh UNHI.

BACA JUGA:  Zurich Entrepreneurship Program Edukasi Lebih dari 3.700 Pelajar se-Indonesia di Tahun Ketiga

"Satu, membangun satu kepercayaan diri bahwa kita mampu untuk menyelenggarakan di dalam kampus. Yang kedua, infrastruktur kami mendukung. Karena mahasiswa ini ketika masuk di UNHI diupacarai dengan Widya Jayanti, dan ketika keluar dari UNHI ya harus di kampus kembali," tegasnya.

Terkait dengan kualitas lulusan, Cokorda Gde Bayu Putra memaparkan bahwa masa tunggu para alumni UNHI untuk mendapatkan pekerjaan masih tergolong sangat ideal, yakni berada di bawah waktu enam bulan.

"Masa tunggu sesuai data tracer study kami di bawah 6 bulan masih. Dan ini merupakan indikator IAPT (Instrumen Akreditasi Program Studi) yang menurut saya ya cukup ideal juga, kita pertahankan trennya ke depan," tuturnya optimis.

Menjelang tahun akademik baru, UNHI Denpasar juga membawa kabar baik bagi masyarakat dengan siap dibukanya program studi (prodi) baru, yaitu Magister Hukum (S2). Surat Keputusan (SK) pendirian prodi tersebut akan segera diserahkan oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VIII.

"Satu yang nanti akan diserahkan Pak Kepala Lembaga LLDIKTI Wilayah VIII itu kan pendirian Magister Hukum, yang SK-nya sudah terbit dan segera kita bisa promosikan. Dan juga memang pendaftar juga sudah mulai satu dua berdatangan, dan kami mohon dukungan masyarakat juga untuk mempercayakan putra-putri terbaiknya bersekolah dan berkuliah di UNHI," terangnya. 

Di tempat yang sama, Ketua Senat Unhi Denpasar, Prof. Dr. Ir. IB. Yudha Triguna, M.S. menyatakan komitmen senat selaku mitra rektor untuk terus mendorong kinerja jajaran rektorat agar tetap berada dalam koridor regulasi yang berlaku demi menjaga kepercayaan masyarakat.

"Sebagai mitra rektor, tentu kami berusaha memberi motivasi kepada rektor dan seluruh jajarannya, pembantu-pembantunya, untuk senantiasa bekerja dengan motivasi tinggi dengan koridor aturan-aturan yang jelas. Karena dengan demikian, niscaya masyarakat ya kita harapkan semakin percaya kepada lembaga ini, semakin terbuka untuk menyekolahkan putra-putri mereka di kampus yang terbaik untuk kampus perguruan tinggi agama Hindu ini," ungkap IB Yudha Triguna.

BACA JUGA:  FK Unud Selenggarakan Trilogi Open 2022

Menjawab tantangan kemajuan teknologi saat ini, IB Yudha Triguna menekankan bahwa UNHI akan tetap mempertahankan karakteristik khasnya sebagai perguruan tinggi bernuansa Hindu, tanpa menutup mata terhadap tuntutan modernisasi global.

"Saya kira Pak Rektor dengan jajarannya sudah memikirkan bahwa ada prodi klasik yang harus dipertahankan, tidak boleh hilang sebagai penciri dari lembaga pendidikan agama Hindu. Tetapi juga lembaga ini tidak boleh tertinggal dari kebutuhan-kebutuhan aktual dari prodi yang harus dikembangkan," pungkasnya.

Sementara itu, dua lulusan Komang Agus Saras Sanitra dan Ni Luh Putu Ekayanti, tampak tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Saras Sanitra berhasil menyandang sarjana pendidikan seni karawitan. Sementara Eka meraih sarjana pendidikan agama Hindu. 

Mungkin bagi sebagian orang, berhasil menyelesaikan studi sarjana merupakan hal biasa. Tapi tidak bagi Saras dan Eka. Sebab, bagi keduanya pencapaian menyelesaikan pendidikan sarjana penuh tantangan. 

Saras dan Eka merupakan disabilitas tunadaksa. Tunadaksa adalah kondisi disabilitas fisik yang memengaruhi fungsi tubuh, seperti gangguan gerak, koordinasi, atau hilangnya anggota gerak. Baik Saras dan Eka lahir prematur. 

Saras, pria asal Kerambitan, Tabanan ini, memilih Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Karawitan Keagamaan Hindu. Saras masuk tahun 2019. Karena berbagai keterbatasan, termasuk era Pandemi Covid-19 serta ayahnya yang menderita sakit sampai meninggal, ia baru menuntaskan pendidikan sarjana tahun 2026.

"Agak terlambat. Tapi hari ini saya bayar lunas. Benar-benar plong rasanya," jelas anak ketiga dari I Wayan Budiarta (alm) dengan Ni Made Suarni. 

Untuk sampai di titik ini, Saras mengaku tidak mudah. Ia mengaku bersyukur memiliki kakak dan teman-teman yang sangat membantu, terutama urusan antar-jemput kuliah ke kampus. "Kalau sudah mentok, saya naik ojek online. Saya tinggal bersama kakak di Dalung. Tapi kost juga deket kampus untuk mempermudah akses," kenang Saras. 

BACA JUGA:  Evaluasi dan Optimalisasi Percepatan Penurunan Stunting untuk Target 2024

Setelah gelar sarjana pendidikan seni karawitan dalam genggaman, Saras bercita-cita menjadi guru kesenian. Ia sudah menaruh lamaran di sejumlah sekolah [SMP]. Selama menjadi mahasiswa, Saras aktif "megambel" hingga menjadi pembina seka gong di berbagai daerah, terutama wilayah Tabanan. 

Saras menjadi sosok kunci di balik kesuksesan Seka Baleganjur Banjar Bukit Catu, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, meraih juara 3 pada ajang Ulun Danu Fest tahun lalu. Dengan kerja keras, membelah kabut Bedudul, Saras berhasil membina seka gong tersebut sampai mengukir prestasi.

Senada, Eka juga menceritakan perjuangan penuh liku menuntaskan pendidikan tinggi pada Prodi Pendidikan Agama Hindu. Setiap hari, Eka bolak-balik mengendarai sepeda motor roda tiga dari rumahnya di Abiansemal ke Kampus Unhi. 

Keberhasilan ini, kata Eka, tidak lepas dari support keluarga, teman kuliah serta dosen. Selama berkuliah di Unhi, Eka mengaku tidak mendapatkan perlakuan tidak nyaman seperti perundungan. Malah, teman dan dosen mensupport penuh langkahnya menggapai cita-cita.

Eka juga menggantungkan harapan menjadi guru setelah lulus kuliah. Menurutnya guru merupakan profesi mulia. Melalui jalur pendidikan, ia berkomitmen menyalurkan pengetahuan yang didapatkan selama di bangku kuliah. 

"Awalnya kuliah di bidang pendidikan itu disarankan orang tua. Tapi lama-lama saya suka. Akhirnya mantap ingin jadi pendidik di sekolah umum," pungkasnya. 

Eka dan Saras berpesan kepada generasi muda untuk menjaga asa, tidak menyerah dengan keadaan. Sebab mereka sendiri telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi persoalan. Mereka yakin Tuhan menyelipkan kelebihan di balik kekurangan. (gde)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top