"Aktivitas organisasi sangat menunjang aktivitas koran kita menjadi bahan berita. Itu berarti yang terlibat dalam organisasi itu terikat untuk membaca berita. Ada makna bisnisnya di situ," jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya sinergi antara idealisme dan bisnis. Menurutnya, wartawan masa kini harus paham seluk beluk bisnis dan iklan.
"Wartawan itu harus mengetahui seluk beluk bisnis dan iklan. Dan sebaliknya seorang marketing juga harus bisa menulis karya jurnalistik," tegas mantan Pemimpin Redaksi Tempo ini.
Dalam materi, Widminarko mengingatkan dasar jurnalistik adalah fakta, bukan imajinasi. Fakta bisa berupa kejadian yang ditangkap panca indera seperti banjir atau bau busuk. Bisa juga berupa pernyataan seseorang yang harus jelas narasumbernya, atau kutipan dari buku yang jelas sumbernya.
Ia membagi fakta menjadi tiga yaitu, Fakta Primer yang ditangkap langsung dengan panca indera, Fakta Sekunder yang kadang lebih menarik dari fakta primer dan Fakta Tersier, fakta masa lalu yang diulang kembali dengan timing yang tepat
Untuk menambah wawasan, ia berpesan agar calon wartawan harus gemar membaca, mendengar, menonton, dan mencatat.
"Seiring waktu pers berubah. Tapi satu hal yang tidak boleh hilang yaitu memahami sejarah pers Indonesia agar jurnalis masa kini tidak kehilangan jati diri," pungkas Widminarko.
OKK PWI Bali 2026 merupakan syarat wajib bagi calon anggota sebelum mengikuti Uji Kompetensi Wartawan dan mendapatkan Kartu Anggota PWI. (Tika)










