Widminarko: Wartawan Harus Independen, Mengetahui Seluk Beluk Bisnis dan Iklan

1000731005
Wartawan senior, Widminarko (kanan) saat menjadi narasumber dalam Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian PWI Bali. (FB/Dartha)

DENPASAR-fajarbali.com | Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali menggelar Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) tahun 2026 di Gedung PWI Bali, Kamis (20/8/2026). Kegiatan ini diikuti puluhan calon anggota PWI Bali dari berbagai media di Bali.

Hadir sebagai pemateri, Widminarko, wartawan senior yang mengawali karier jurnalistiknya sejak tahun 1965. Ia berbagi pengalaman panjangnya di dunia pers, mulai dari era koran perjuangan hingga pensiun tahun 2021.

Widminarko menuturkan, saat pertama melamar ke media Suara Indonesia yang terbit sejak 1948, ia belum memiliki bekal ilmu jurnalistik. "Kalau mau jadi wartawan bekal utama adalah niat dan semangat," ujarnya.

Di Bali saat itu hanya terbit 2 koran yang berafiliasi dengan PKI, yakni mingguan Fajar dan harian Bali Dwipa. Sementara Suara Indonesia kemudian berafiliasi ke Partai PNI dan berganti nama menjadi Suluh Indonesia edisi Bali.

Karena kondisi politik saat itu, ia bahkan merangkap tiga peran yaitu menjadi wartawan, pegawai penerangan Provinsi Bali, dan politisi. Namun tekanan yang ia rasakan, seperti ditegur saat memberitakan iring-iringan Golkar, membuatnya bertekad menjadi wartawan yang independen.

"Karena merasa tertekan dan bertentangan dengan batin, saya bertekad ingin menjadi wartawan yang independen, tidak aktif sebagai politik praktis," katanya.

Widminarko menekankan, wartawan tidak harus anti politik, tetapi harus aktif sebagai wartawan masyarakat dengan mengikuti kegiatan kemasyarakatan. Aktivitas organisasi disebutnya justru menunjang kerja jurnalistik karena menjadi sumber berita.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top