“Kalau ekonomi keluarga kuat, kebutuhan gizi dan kesehatan anak lebih mudah dipenuhi. Karena itu, pertumbuhan ekonomi harus berdampak pada kualitas hidup masyarakat,” tegasnya.
Namun, ia mengingatkan penanganan stunting tidak bisa bertumpu pada faktor ekonomi semata. Dibutuhkan kolaborasi program kesehatan, edukasi gizi, pendampingan ibu hamil, serta peran aktif pemerintah dan masyarakat untuk memastikan tumbuh kembang anak optimal.
Disel Astawa juga menanggapi wacana memiliki empat anak yang berkaitan dengan pelestarian tradisi penamaan Bali, yakni Wayan/Putu, Made/Kadek, Nyoman/Komang, dan Ketut.
Ia menilai tradisi dan identitas budaya Bali memang penting untuk dijaga keberlanjutannya. Kendati demikian, kesiapan ekonomi keluarga harus menjadi pertimbangan utama agar hak-hak dasar anak tetap terpenuhi.
“Tradisi Bali harus tetap dijaga, tetapi kesejahteraan keluarga juga penting. Jangan sampai keinginan melestarikan tradisi tidak diimbangi kemampuan memenuhi kebutuhan anak, terutama gizi dan pendidikan,” tandasnya.
Ia berharap jika gagasan pelestarian tradisi penamaan itu terus didorong, pemerintah dan dunia usaha ikut memberikan dukungan melalui penguatan akses layanan kesehatan, jaminan sosial, dan kebijakan yang berpihak pada keluarga.M-002









