Keseruan dan kegembiraan warga tampak terlihat jelas, saat salah satu kelompok berhasil menagkap ekor lawan. Akibatnya, tidak jarang peserta dalam permainan tersebut berjatuhan dan saling tindih. Kesempatan tersebut pun kerap dijadikan peluang oleh sejumlah pemuda yang ikut dalam permainan tersebut untuk menggoda lawan jenisnya yang kalah.
Menurut Bendesa Desa Adat Kintamani, Nyoman Sukadia, megoak-goakan sudah diwariskan secara turun temurun dan biasa dilaksanakan pada saat Nyepi Desa serangkaian dengan upacara di Pura Dalem Pingit desa setempat.
“Tarian megoak-goakan ini juga menggambarkan seoarang pemimpin yang baik akan selalu melindungi rakyatnya. Dimana bagian kepala kelompok adalah pemimpinya yang dibelakangnya adalah rakyatnya, yang senantiasa akan mengikuti pemimpinnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, disampaikan, runtutan tradisi Magoak-goakan ini merupakan rangkaian dari upacara Muse, sebagai persembahan kepada Ratu Dalem yang berstana di Pura Dalem Pingit yang ada di Desa Kintamani. Sehari sebelum perayaan Nyepi Desa, kata dia, warga akan melaksanakan upacara dengan mempersembahkan ayam merah. Setelah itu juga dihaturkan berupa segehan kepada iringan dari Ratu Dalem, berupa sapi yang disembelih dan diolah sedemikian rupa. Upacara ini dilaksanakan di tempat yang disebut dengan kalang Beten. Rangkaian upacara selanjutnya, pada tengah malam dilaksanakan pangrupukan yang gunanya untuk menyomia bhuta kala. “Setelah semua rangkaian upacara itu kita laksanakan, rangkaian pelaksanaan nyepi desa baru kita laksanakan dan dilanjutkan dengan magoak-goakan selama sehari penuh,” tegasnya.










