DENPASAR-fajarbali.com | Seniman kontemporer sekaligus pengusaha asal Bali, Handy Saputra, kembali mencuri perhatian dunia seni rupa lewat pameran tunggal ketiganya yang bertajuk “The Dialogue Between The Moon and Its Halo (Cengkerama Sang Bulan dengan Sinar Sekelilingnya)”. Berlangsung di Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar, pameran ini resmi dibuka pada 6 November 2026 dan akan memanjakan para penikmat seni hingga 30 Desember 2026. Sebanyak 23 karya lukis dan 2 karya patung dipamerkan dalam ajang bergengsi ini, menampilkan kedalaman visual yang sarat makna.
Dalam catatan kuratorialnya, kurator seni lukis Muhammad Bundhowi mengungkapkan bahwa Handy Saputra merupakan figur unik yang memadukan latar belakang manajemen bisnis dengan praktik seni visual otodidak yang sangat ekspresif. Handy dikenal konsisten menekuni aliran Art Brute (seni mentah) dan Outsider Art (seni di luar arus utama). Berbeda dengan seniman studio pada umumnya, karya-karya Handy lahir dari ekspresi yang liar, naluriah, serta bebas dari sekatan teknik akademis yang kaku, merefleksikan kejujuran tanpa pretensi.
Lebih lanjut, Bundhowi memaparkan bahwa fenomena Art Brute di Indonesia bukanlah hal baru, dengan merujuk pada sejumlah tokoh penting di tanah air. “Di Indonesia sendiri, fenomena seni rupa Art Brute bukanlah suatu hal yang baru saja muncul. Banyak seniman yang dianggap memiliki tendensi mencipta Art Brute, termasuk di antaranya Ni Nyoman Tanjung (Bali) yang ditemukan oleh seniman Bali Made Budhiana, kemudian diperkenalkan ke kancah internasional oleh antropolog asal Swiss, Georges Breguet. Kemudian Dwi Putro Mulyono atau Pak Wi (Yogyakarta) yang merupakan sosok monumental dalam dunia seni outsider di Indonesia,” ungkapnya.









