Program seperti Australia New Colombo Plan dan Bali Beyond Borders menjadi bukti konkret bahwa Undiknas semakin diakui di kancah internasional.
“Kami percaya bahwa inovasi, kolaborasi, dan adaptasi adalah kunci untuk mempertahankan Undiknas sebagai kampus unggulan. Dengan semangat progresif, kami siap menghadapi tantangan masa depan dan terus mengukir prestasi,” tambah Rektor.
Pada kesempatan ini, Undiknas juga secara resmi mendeklarasikan pengalihan kelola atau penyatuan Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha ke Universitas Pendidikan Nasional.
Keputusan ini telah dituangkan dalam Akte Notaris Nomor 26 tertanggal 10 Februari 2025, tentang Pernyataan Keputusan Rapat Kesepakatan Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha dengan Universitas Pendidikan Nasional.
“Penyatuan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Undiknas dalam bidang pendidikan farmasi dan ilmu kesehatan, sekaligus memberikan peluang pengembangan program akademik yang lebih luas,” pungkas Rektor.
Sementara Ketua Perkumpulan Pendidikan Nasional (Perdiknas) Dr. AAN. Eddy Supriyadinata Gorda menyampaikan, perguruan tinggi tidak sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga wadah bagi mahasiswa untuk berdiskusi dan menemukan solusi bagi berbagai permasalahan.
Konsep ini disebut "Secholai", yakni memanfaatkan waktu luang untuk berdiskusi dan menghasilkan solusi baru.
Menurutnya, perguruan tinggi harus memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa untuk berdiskusi dan menggali ide-ide baru.
“Misal mahasiswa manajemen berdiskusi tentang how to manage, akutansi bagaimana menyempurnakan perilaku yang seimbang karena akutansi berbicara masalah keseimbangan. Sehingga konsep saya sederhana ketika kita lulus di perguruan tinggi sebetulnya banyak ide yang bisa kita tawarkan untuk memecahkan masalah-masalah bangsa,” kata pria yang akrab disapa Gung Eddy.










