Tutur Ayu, Refleksi Pengabdian Tanpa Batas Tiga Maestro Pendidik di Santrian Gallery

WhatsApp-Image-2026-03-06-at-21.21.38
Salah satu pengunjung melihat pameran bertajuk "Tutur Ayu" di Santrian Gallery.

Berbeda dengan Marra, I Wayan Santrayana membawa gaya deformatif yang telah menjadi ciri khasnya sejak awal berkarier. Lewat figur-figur yang terdistorsi namun ekspresif, Santrayana menyuarakan kegelisahannya terhadap dinamika hubungan manusia dengan ekologi. Karyanya seolah mengajak penonton untuk merenung sejenak tentang bagaimana manusia hari ini memperlakukan alam dan merespons perubahan sosial yang kian cepat.

Sementara itu, I Gede Budiartha memilih jalur abstraksi untuk menyentuh aspek "rasa" dalam kemanusiaan. Meski tampak abstrak secara komposisional, karyanya tetap menyisakan jejak objek yang dapat dikenali melalui permainan warna dan gestural yang kuat. Bagi Budiartha, seni adalah medium untuk menyusuri ceruk terdalam kehidupan, di mana emosi dan jiwa luruh dalam penghayatan visual yang jujur dan berkarakter.

Penulis pameran, I Made Susanta Dwitanaya, menyoroti bahwa pameran ini adalah sebuah pernyataan artistik bahwa seni adalah bahasa yang tak pernah mengenal kata pensiun. Dedikasi ketiga guru ini dalam mengajarkan pengetahuan selama puluhan tahun kini terdistilasi menjadi karya seni yang sarat dengan muatan edukatif. Hal ini menegaskan posisi seniman bukan sekadar pembuat objek indah, melainkan penjaga rasa dan moralitas masyarakat.

Pembukaan pameran yang berlangsung pukul 18.00 WITA tersebut menarik perhatian kalangan budayawan, kolektor, dan pencinta seni. Kehadiran Putri Suastini Koster sebagai pembuka pameran memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi para pensiunan pendidik ini. Menurutnya, karya-karya yang ditampilkan mencerminkan kematangan batin yang hanya bisa dicapai melalui pengalaman hidup dan ketulusan dalam berkarya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top