“Banyaknya turis berwisata ke Jepang, itu fokus tujuannya hanya ke kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, Kyoto. Nah padahal kota kecil pun punya histori yang bagus, seperti di desa, nature-nya juga bagus. Nah di Indonesia, mereka (wisatawan) sudah mengerti mana spot wisata yang bagus. Di desa saja seperti Sidemen Karangasem itu bisa maju, banyak wisatawan ke desa. Nah masalah itu lah orang Jepang ingin belajar tentang tourism dari Indonesia,” terang Christ.
Christ menambahkan, selain kegiatan tatap muka, nantinya juga akan ada kunjungan ke berbagai tempat dan pertukaran pelajar. Para siswa akan belajar di Jepang selama satu minggu. “Sekolah lain mungkin akan jalan-jalan. Nah kami murni akan melakukan kunjungan ke beberapa sekolah dan belajar,” tambahnya lagi.
Kepala SMK Harapan Denpasar, Gusti Made Artika mengakui kegiatan tersebut memberi manfaat yang baik bagi siswanya. Mereka di sana dapat berkomunikasi dengan orang Jepang menggunakan Bahasa Inggris sekaligus dapat memecahkan masalah yang dialami dua negara.
“Anak-anak setingkat SMK sudah mampu memecahkan masalah, terutama tentang pariwisata. Sebagaimana kita ketahui, persoalan sampah di daerah pariwisata saja sangat kualahan kita kendalikan,” ungkapnya.
Artika menambahkan, sebelumnya sudah pernah dilakukan diskusi jarak jauh dengan siswa dari Sydney dan Perth Australia, termasuk pertukaran pelajar pada tahun 2017.
Tahun ini, tepatnya Juli mendatang, para siswa yang terlibat aktivitas monitor discussion kemarin akan diberangkatkan ke Jepang untuk mengikuti proses pembelajaran bersama siswa negara matahari terbit itu. “Kami sudah lakukan MoU dengan Jepang, bahkan pihak dari Jepang ingin dilakukan aktivitas ini satu tahun dua kali,” pungkas Artika. (eka)










