Bhaerawa Jnana, lanjut Ida Pandita Dukuh Celagi, menegaskan bahwa inti dari ajaran Bhaerawa adalah konsep pembebasan. Konsep ini menekankan pada kemampuan seorang sadaka untuk melepaskan tiga ikatan utama, yaitu ilusi, ego, dan ketakutan.
“Ketika seseorang mampu membunuh ilusi, ego, dan ketakutan, maka ia akan berjalan bebas tanpa ikatan. Artinya tanpa rasa takut, tanpa keterikatan pada ilusi, dan tanpa terbelenggu ego,” ungkap Ida Pandita Dukuh Celagi.
Sayangnya, pemahaman masyarakat umum selama ini kerap melenceng. Ajaran Bhaerawa sering dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif, bahkan dianggap sesat.
Pandangan tersebut, menurut Ida Dukuh, muncul akibat proses panjang “pembunuhan karakter” terhadap ajaran ini. “Dulu, ajaran Bhaerawa sering dicap buruk, akhirnya orang takut mendalami, bahkan meninggalkannya,” tambahnya.
Hal menarik lainnya, menurut Ida Dukuh Celagi, ajaran Bhaerawa bukanlah sebuah agama, melainkan jalan atau filsafat yang bisa diikuti siapa saja. Karena itu, pengikut ajaran ini tidak hanya berasal dari Hindu.
“Bhaerawa adalah ajaran, bukan agama. Siapapun boleh mengikuti. Namun, kalau karma seseorang tidak terkait dengan ajaran ini, mungkin ia tidak akan pernah bertemu dengan Bhaerawa,” tuturnya.
Ida Pandita Dukuh Celagi menambahkan, meski jarang dipahami, Bhaerawa sejatinya memiliki nilai universal yang sejalan dengan ajaran besar dalam Hindu, seperti Panca Sradha yang mengajarkan tentang moksa atau pembebasan.
Pada kesempatan yang sama, ketua panitia acara, Jro Mangku Wisnu Arta, menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah memberi sudut pandang berbeda kepada masyarakat.










