SEMARAPURA-fajarbali.com | Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat, khususnya penganut Hindu Bali masih memandang negatif ajaran Bhaerawa.
Salah satu indikator termudah yakni menyimak komentar-komentar pengguna media sosial tentang konten yang menyangkut Bhaerawa.
Praktisi ajaran Bhaerawa Ida Pandita Dukuh Celagi, ketika diminta konfirmasi, hanya tersenyum sembari menilai bahwa umat yang memandang negatif itu hanya belum paham esensi dari Bhaerawa.
Sebagai upaya memberikan pemahaman yang lebih jernih tentang ajaran Bhaerawa, Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirthi, pun mengundang masyarakat umum untuk hadir di Pasraman Sri Taman Ksetra, Desa Pikat, Klungkung, pada Sabtu (30/8/2025) mulai Pukul 14.00 Wita.
Peserta akan diajak membedah ajaran Bhaerawa lewat buku Bhaerawa Jnana. Ini merupakan karya kedua Ida Pandita Dukuh Celagi, bekerja sama dengan dr. Wayan Mustika.
Buku ini juga menyambung ini karya pertamanya, Bhaerawa adalah Jalanku, yang disebut mendapat sambutan positif dan diminati banyak kalangan.
Sebagai seorang praktisi Bhaerawa, Ida Dukuh Celagi sangat memahami esensi ajaran serta teknik meditasinya.
Dalam buku keduanya ini dikupas secara mendalam tentang makna serta simbol-simbol yang digunakan para sadaka (penganut) Bhaerawa pada masa lampau.
“Di zaman sekarang, ada pergeseran dalam penggunaan sarana yang sering dianggap terlalu ekstrem. Padahal, simbol-simbol itu bisa digantikan dengan bentuk yang lebih sederhana namun tetap bermakna. Misalnya, tulang diganti dengan kayu yang sudah terbakar, atau tengkorak diganti dengan kelapa maupun kerang yang disucikan,” jelasnya, di Desa Pikat, Dawan, Klungkung, Minggu (24/8/2025).










