Sementara, Ni Wayan Sutariyani (NiWay), seorang seniman dan Art Therapy practitioner yang mengeksplorasi seni sebagai medium penyembuhan dan rekoneksi diri.
Panelis berikutnya, Cokorda Istri Ratih Iryani, maestro tari Bali yang mengintegrasikan nilai-nilai luhur tradisi ke dalam pencapaian profesional. Serta, Widianty Hidayat, representasi dari komunitas Oriflame yang menyoroti aspek kemandirian ekonomi dan pemberdayaan melalui kecantikan.
Fokus utama dari sesi ini adalah terjadinya pergeseran paradigma (paradigm shift). Para pembicara sepakat bahwa kekuatan bukanlah sebuah konsep yang monolitik. Melainkan hasil dari resiliensi yang tumbuh melalui perjalanan hidup yang personal.
Dengan beralih dari validasi eksternal menuju apresiasi nilai diri, perempuan dapat membangun kapasitas diri yang lebih tangguh menghadapi dinamika zaman.
Memasuki sesi kedua, diskusi beralih pada relevansi strategis dari perawatan diri. Serta bagaimana tradisi Bali berperan dalam menjaga keseimbangan hidup.
Peserta diajak mengevaluasi pola perilaku umum, yang mana perempuan cenderung menempatkan kesejahteraan pribadinya di urutan terakhir. Ini sebuah kebiasaan yang harus diubah demi keberlanjutan peran mereka dalam keluarga dan masyarakat.
Salah satu poin transformatif dalam sesi ini adalah pembahasan mengenai kesehatan mata. dr. Ni Made Ayu Wulandari memberikan wawasan bahwa kesehatan mata bukan sekadar fungsi penglihatan biologis. Melainkan representasi bagaimana seorang perempuan memandang dirinya sendiri secara internal. Kemudian memengaruhi cara ia mempersepsikan dunia di sekelilingnya.










