Sekretaris Desa Pererenan, I Ketut Sasmita, mengatakan, Sebelum berdirinya TPST, penanganan sampah di Desa Pererenan dilakukan oleh masyarakat lokal dengan sistem open dumping. Kini, sampah organik masuk ke mesin cacah dan diolah menjadi kompos. Kompos yang dihasilkan diberikan kepada masyarakat secara cuma-cuma jika tidak diambil pihak lain. Dengan bantuan dari su-re.co, diharapkan pengolahan sampah di TPST ini menjadi lebih mudah dan cepat.
“Kalau yang dari su-re.co, selama ini kerjasama berkait dengan pengelolaan sampah organiknya, termasuk fisiasis sama tanah. Itu sangat bagus. Kami di Desa Pererenan memang punya program untuk mengolah sampah secara baik dan benar,” kata Ketut.
Ia menambahkan, 600 kepala keluarga di Desa Pererenan sudah mulai terbiasa melakukan pemilahan sampah. Hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Badung yang melarang pengiriman sampah ke TPA Suwung mulai Agustus 2026.
Sementara itu, Ketua TPST Sudha Pertiwi, Pererenan, Putu Suadana Putra juga menyampaikan hal yang sama, dimana bantuan dari su-re.co, sangat membantu dalam hal pengolahan sampah di TPST ini.
“Semoga program ini berjalan lancar. Kami akan memelihara fasilitas ini. Kalau program ini sukses, akan sangat membantu kami dalam penanganan sampah organik basah. Produk su-re.co juga tidak terlalu banyak menghabiskan dana desa untuk membakar. Untuk kesehatan juga lebih bagus,” ujar Putu.
Inisiatif From Waste to Harvest: Closing the Soil-to-Table Loop, merupakan percontohan sistem sirkular yang menghubungkan TPST Pererenan, petani lokal, dan sektor hospitality untuk menciptakan siklus pangan yang berkelanjutan di Bali. su-re.co adalah organisasi riset dan aksi yang fokus pada transisi menuju ekonomi sirkular dan rendah karbon melalui inovasi teknologi, riset, dan kolaborasi lintas sektor.M002










