Seberapa Penting Peran Jurnalis saat Terjadi Bencana? Ini Ulasannya!

IMG-20251005-WA0004
Puluhan awak media/jurnalis di Bali mengikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Jurnalis Peliputan Bencana Alam di Quest Hotel San Denpasar, Sabtu (4/10/2025).

Sedangkan iklim didefinisikan, rata-rata cuaca dalam jangka waktu yang panjang. ’’Cuaca itu berubah, seperti perempuan, sesuai mood-nya. Kalau iklim, seperti lelaki. Pola stabil,’’ guraunya disambut tawa peserta dan hadirin. Juga dicontohkan, cuaca ekstrem (cuek), dijelaskan sebagai fenomena alam. Di mana, terjadi kondisi tidak lazim. Sehingga, dapat menimbulkan ancaman.

Kemudian peserta diajak membedakan puting beliung dengan angin kencang. ’’Angin kencang sudah masuk cuaca ekstrem, 45 kilometer per jam. Kalau puting beliung itu, ada pusaran dari dasar awan cumulonimbus,’’ jelasnya.

Ditambahkan, terkait banjir bandang di Bali, pada Rabu lalu (10/9), disebut karena ada faktor gelombang atmosfer aktif. Yaitu, gelombang rosby disebabkan topografi atau pemanasan sinar matahari.

Sedangkan Putu Eka memaparkan tugasnya di Bandara Ngurah Rai, yakni dengan konsep observasi metereologi ideal di bandara. Ada alat sudah komplit di Bandara I Gusti Ngurah Rai. ’’Ada pengamatan darat dan lain-lain, termasuk alat mengetahui arah dan kecepatan angin,’’ urainya.

Mewakili Gubernur, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalaksa BPBD) Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya saat membuka pelatihan mengatakan penyebab banjir bandang beberapa hari lalu di Bali, ditegaskan tidak ada bencana penyebabnya tunggal. Jadi ada berbagai faktor. Kuncinya, ada kerentanan bertemu ancaman.

’’Oleh karena itu, kerentanan bertemu ancaman hujan 150 mm per hari sudah ekstrem. Tapi, hari itu (Selasa, 9/9 dan Rabu, 10/9) mencapai 390 mm, dua kali ekstrem dan ancaman kedua gelombang pasang 2 meter lebih. Sehingga, aliran sungai ke laut terhambat gelombang pasang,’’ ujarnya mengenai salah satu penyebab banjir bandang tersebut.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top