“Pelayanan juga perlu berdasar pada kebutuhan. Dengan melibatkan teman-teman secara langsung sebagai pelaku dan perencana, kita benar-benar dapat memahami kebutuhan masing-masing. Inklusivitas dalam penanggulangan bencana bukan sistem yang terpisah, tetapi menjadi bagian dari keseluruhan sistem karena semua orang berhak untuk selamat,” kata Ketua I ULD-PB Bali, Elsye Suryawan.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap berbagai inisiatif yang berkembang, BPBD Provinsi Bali memberikan penghargaan kepada individu, komunitas, lembaga, dan organisasi yang berkontribusi dalam memperkuat kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana di Bali.
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, Teja Bhusana, penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas dedikasi berbagai pihak yang selama ini bekerja bersama membangun ketangguhan masyarakat. “Banyak komponen masyarakat dan lembaga yang sudah berkolaborasi, bersama-sama membangun kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana dengan usaha dan dedikasinya. Sudah sepatutnya pemerintah memberikan apresiasi sebagai bentuk motivasi bahwa kerja keras mereka bermanfaat, menginspirasi, dan membawa dampak bagi masyarakat,” tuturnya.
Selain menjadi ruang apresiasi, Bulan PRB 2026 juga dimanfaatkan untuk memperkuat pembelajaran lintas sektor terkait Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Kampus Siaga Bencana, ketangguhan fasilitas kesehatan, pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat, serta integrasi pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim dalam pembangunan daerah.










