Dia mengaku juga tidak mampu mencari sambungan listrik sendiri. Aliran listrik yang masuk, masih nempel dengan tetangga. Demikian halnya soal air bersih mereka harus kebal muka, terus meminta dari keluarga (tetangganya),. Bila air harus membeli dan listrik harus menyambung sendiri, dikhawatirkan biaya untuk isi perut terkurangi.
”Tyang ten ngidaang perbaiki rumah, untuk isi perut saja sudah susah”, sesalnya.
Pasutri yang punya dua anak masih kecil-kecil ini (Doni Atmaja dan Rendi Antika) memang mendapat jatah beras miskin. Tetapi usulan bedah rumah ke desa sejak lama kini tak jelas realitanya. Kalau jatah beras raskin mereka dapatkan dari pemerintah, tetapi sayang mereka tak kunjung mendapat bantuan bedah rumah, padahal sudah sejak lama diusulkannya ke desa.”Sudah sejak lama tiyang usulkan bedah rumah, tapi kayang mangkin (sampai sekarang) tak dapat”, tambahnya. (sum)










