Kepala SDN 066 Pekkabata, Sulawesi Barat, Erniwati, menyatakan, "Rapor Pendidikan bagai kompas bagi saya dalam tiga tahun menjabat sebagai kepala sekolah. Awalnya tata sekolah tidak dapat merepresentasikan tujuan satu tahun ke depan karena tidak ada data tentang kondisi riil di sekolah kami. Dengan hadirnya aplikasi berbasis teknologi Rapor Pendidikan ini, saya bisa bisa melihat capaian siswa saya dalam data literasi dan numerasi, sehingga perencanaan pun dapat dibuat berbasis data. Bahkan gambaran karakter siswa dan iklim pendidikan saya yang selama ini adalah konsep abstrak di kepala saya, sekarang muncul sebagai data riil."
Cerita berbeda dibagikan oleh Kepala Dinas Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Kholid, yang dalam perannya sehari-hari banyak bersinergi dengan para kepala sekolah untuk pengembangan kapasitas pendidikan di Kabupaten Pekalongan. Sebelumnya kompleksitas evaluasi, perencanaan, dan implementasi program-program untuk peningkatan kualitas sekolah ini membebani mereka. Namun seiring dengan keberadaan Rapor Pendidikan, proses pemetaan akar masalah hingga pencarian solusi ini berjalan lebih mudah karena otomatis tersaji di platform tersebut, usai data-data terisi.
"Awalnya jelas sulit dalam mengatur tata kelola sekitar 1.400 satuan pendidikan di Kabupaten Pekalongan dengan kondisi geografi yang mencakup gunung, darat, hingga pesisir yang berbeda konteks. Semula untuk mendapatkan laporan situasi, kami membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga satu bulan. Intervensi teknologi memangkas proses ini, bahkan laporan dapat kami terima dalam satu hari saja, tanpa memerlukan interaksi langsung. Dampak terhadap ekosistem pendidikan pun menjadi sangat besar, di mana kami bisa memfokuskan penggunaan sumber daya kami dalam membentuk tim yang terdiri dari 2-3 orang untuk mendampingi sekolah-sekolah berdasarkan pemetaan masalah dan situasi," jelas Kholid.










