"Untuk itulah kami membuat perubahan radikal dalam pendekatan terhadap teknologi. Pertama, teknologi harus menjadi bagian dalam desain program bukan sekadar adisionalitas (after thought). Kami juga mengutamakan kepentingan pengguna, baik dari sisi kualitas, kinerja, aplikasi yang dapat diandalkan, serta desain yang mudah digunakan. Pengguna perangkat paling sederhana pun dapat mengakses aplikasi kami. Terakhir, tentunya tim berkualitas terdepan yang bekerja tanpa henti untuk terus mengembangkan sistem ini," urai Iwan.
Iwan menambahkan, saat ini ada 4,3 juta pengguna aktif PMM, dengan partisipasi 7 kali lipat meningkat dibanding 2019. Dari angka tersebut, 52 persen pengguna berada di wilayah pedesaan, dengan total 144.000 komunitas di seluruh Indonesia. Selain itu, saat ini sudah ada 1,3 juta bahan ajar yang diunggah guru ke dalam PMM.
"Yang menjadi daya ungkit, atau yang kami sebut hockey stick growth, adalah ketika kami memfasilitasi komunitas untuk berbagi (community sharing) pada PMM di Juli 2022. Di sini kami melihat bahwa sesungguhnya guru dan kepala sekolah senang belajar dari satu sama lain. Selain itu, kebijakan yang tidak menjadikan adopsi ini sebagai kewajiban, juga menjadikan minat pengguna terus meningkat," lanjut Iwan.
Pun demikian, capaian positif ini tidak muncul serta-merta. Kemendikbudristek, yang mengombinasikan antara teknologi dan pendidikan dalam payung Merdeka Belajar, menunjukkan agar ekosistem teknologi digunakan oleh guru, kepala sekolah, hingga kepala dinas sebagai agen perubahan. Maka itu, perubahan kerangka berpikir dan proses adaptasi teknologi dari para aktor pendidik juga menjadi salah satu faktor penentu utama.










