Di sisi lain, Meilanie menilai minat anak muda untuk bertani masih dipengaruhi kebiasaan dan lingkungan. Banyak yang belum merasakan langsung proses dan tantangan di lapangan, sehingga menganggap pertanian kurang menarik.
Padahal, menurutnya, bertani bisa dimulai dari skala kecil, bahkan di perkotaan melalui metode urban farming seperti hidroponik atau penanaman dengan polybag. “Kalau sudah merasakan sendiri prosesnya, pasti tahu kalau bertani itu menyenangkan. Tinggal bagaimana kesadaran masing-masing, apalagi sekarang isu krisis pangan juga mulai terasa,” ujarnya.
Sebagai perempuan muda, Meilanie juga mengajak generasi sebayanya untuk tidak ragu terjun ke dunia pertanian. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting, baik sebagai pengelola rumah tangga maupun dalam menjaga ketahanan pangan. “Kita sebagai perempuan harus punya dasar pengetahuan itu. Bertani sekarang tidak harus kotor, sudah banyak teknologi yang bisa membantu. Jadi jangan takut jadi petani,” tegasnya.
Dalam pengembangan usahanya, Meilanie juga merasakan pentingnya dukungan sektor perbankan. Ia mengaku terbantu dengan akses layanan keuangan digital, salah satunya melalui aplikasi BRImo yang memudahkan transaksi dan pengelolaan keuangan. “Sekarang saya pakai BRImo. Simpel dan lengkap fiturnya, jadi memudahkan untuk kebutuhan operasional,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan perbankan dapat terus memberikan dukungan bagi petani, terutama dalam hal permodalan dan kemudahan akses layanan keuangan. Dengan kolaborasi antara generasi muda, teknologi, dan dukungan finansial, sektor pertanian diyakini mampu menjadi tulang punggung ekonomi sekaligus ruang aktualisasi bagi Kartini masa kini.










