Putu Meilanie, Kartini Muda asal Tabanan Pilih Sawah sebagai Ladang Pengabdian, Kembangkan Usaha Lewat Aplikasi BRImo

IMG-20260420-WA0023
Ni Putu Meilanie Ary Sandi.

TABANAN-fajarbali.com | Sosok Kartini masa kini tak selalu identik dengan ruang kantor atau dunia profesional perkotaan. Di Bali, semangat emansipasi justru tumbuh di tengah hamparan sawah. Generasi muda, khususnya perempuan, mulai menunjukkan bahwa bertani bukan lagi pekerjaan yang dipandang sebelah mata, melainkan pilihan hidup yang menjanjikan dan relevan dengan perkembangan zaman.

Hal itu tergambar dari kisah Ni Putu Meilanie Ary Sandi (23), seorang petani muda yang memilih melanjutkan jejak sang ayah. Meski mengaku awalnya hanya sekadar mencoba, Meilanie kini justru menemukan keseruan dan peluang besar dalam dunia pertanian. “Awalnya saya tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Dulu lebih fokus sekolah dan sempat hidup nomaden di Badung. Tapi sejak pandemi, kami kembali ke rumah dan mulai serius turun ke lahan. Dari situ saya lihat ternyata bertani itu seru,” ujarnya.

Menurutnya, bertani saat ini tidak lagi identik dengan cara konvensional yang berat dan kotor. Inovasi sederhana seperti penggunaan mulsa dari jerami atau sekam padi, hingga racikan pupuk organik buatan sendiri, mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas tanaman.
“Bapak juga punya formula pupuk sendiri yang disemprot halus seperti embun untuk menjaga kondisi tanaman. Jadi kita bisa lebih efisien tanpa harus bergantung penuh pada pupuk pabrikan,” jelasnya.

Tak hanya di sektor produksi, Meilanie juga aktif memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran hasil panen. Ia mengandalkan media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk hotel dan restoran di sektor pariwisata. “Sekarang lebih banyak komunikasi lewat media sosial. Kami juga suplai ke hotel dan restoran karena ada relasi yang sudah percaya. Jadi peluangnya terbuka lebar,” katanya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top