“Nama Kanto Lampo dikatakan berasal dari sebuah pohon sejenis Juwet yang ada di sekitar sungai oleh penduduk sekitar. Air Terjun ini juga memiliki sumber mata air dari dalam tanah dan saluran irigasi, yang digunakan warga untuk mengairi subak meluap karena beberapa salurannya tersumbat,” kata Nyoman Suta.
Luapan inilah yang membentuk aliran air terjun sampai sekarang. Selain itu, Air Terjun Kanto Lampo juga merupakan salah satu Beji di Bali atau tempat yang disucikan untuk Mendak Toya Ning (mencari air suci dari desa) untuk kegiatan upacara Pitra Yadnya maupun Dewa Yadnya, serta juga terdapat beberapa pelinggih yang dikeramatkan, imbuhnya.
Suta juga mengaharapkan masukan pemikiran dari para dosen serta pengelola program studi dan bantuan dari pihak terkait untuk keberlanjutan pengembangan objek wisata Kanto Lampo ini.
Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Koordniator Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Udayana (PDIL Pasca Unud) Prof. Ir. I Wayan Arthana, MS., PhD., yang berpesan kepada masyarakat bahwa, Desa Beng memiliki kekuatan obyek wisata alami ini, lalu ada obyek kuliner yg terkenal secara nasional serta tempat pelayanan kegiatan keagamaan yaitu Taman Prakerti Bhuana yang sudah menjangkau konsumen se nusantara.
“Dari kekuatan itu dapat dikembangkan wisata spiritual disamping ekowisata seperti bird watching, biking dan camping ground,” pungkasnya.
Agar ekowisata yang dikembangkan dapat tergolong green tourism, maka penanganan limbah padatnya mesti menjadi perhatian penting, sampah plastik wajib terkelola dengan sangat baik, jangan sampai tercecer, demikian juga smoking area mesti ditentukan.










