"Khusus di Bali sebenarnya ada kearifan lokal yang bisa dimaksimalkan, yakni budaya banjar. Dari Banjar bisa dilakukan berbagai intervensi yang menyasar seka teruna-teruni, pecalang, ibu-ibu PKK dan warga adat," jelas Prof. Henny dikonfirmasi Sabtu (18/4/2026).
Sejumlah jabatan strategis pernah diembannya, mulai dari Sekretaris Jurusan Keperawatan, Kepala Bidang Keperawatan Komunitas, Kepala UPK SDMK Denpasar dan Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Poltekkes Kemenkes Denpasar.
Selama menjadi dosen, Prof. Henny tercatat belasan kali menjalankan tugas nasional. Untuk luar negeri, Prof Henny pernah ditugaskan sebagai pelatih internasional untuk tenaga kesehatan di Port Villa Republic of Vanuatu Pasific Selatan serta short course elderly di Gunma University of Health and Welfare, Jepang. Ia juga berperan sebagai pembimbing kompetisi tingkat nasional dan internasional dan sebagai reviewer penelitian dan pengabmas nasional.
Kapasitasnya makin teruji setelah menjadi pembicara di dalam dan luar negeri. Publikasi karyanya tembus di jurnal internasional bereputasi Scopus hingga jurnal nasional terakreditasi Sinta, 28 karya buku ber ISBN telah dihasilkan. Memperoleh Hibah penelitian dan pengabmas nasional serta Hibah penelitian internasional dari Unicef Hibah penelitian GLOBAL FUND TB WHO at UNICEF tahun 2026.
Produk inovasi yang dihasilkan Smart Shoes and Sandals (3S), deteksi dini risiko luka Diabetes melalui suhu dan kelembaban Kaki serta One Portable Health & Cukture Kit, One Hamlet (1PK1H). Satu alat kesehatan deteksi dini PTM di @ banjar.










