PP TUNAS dan Dopamine Reset: Menata Ulang Kesehatan Mental Anak di Era Digital

IMG-20260414-WA0079
Ilustrasi foto-seorang anak tampak memainkan gawai. (ist)

SEJAK PP TUNAS diberlakukan, diskusi soal anak dan layar tidak lagi berhenti di level “boleh atau tidak boleh”. Ada pergeseran cara pandang—dari sekadar perilaku, menjadi isu lingkungan yang memengaruhi perkembangan otak. Dan kalau ditarik lebih dalam, ini berkaitan langsung dengan bagaimana sistem dopamin anak bekerja di era digital.

Dunia Digital yang Terlalu Intens untuk Otak Anak

Hari ini, anak tidak hanya “menggunakan” teknologi—mereka hidup di dalam ekosistem yang dirancang untuk mempertahankan perhatian. Platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram bekerja dengan prinsip yang sama: konten cepat, personalisasi algoritma, dan reward instan.

Masalahnya, otak anak belum siap untuk ritme seperti ini. Data menunjukkan bahwa paparan layar bahkan sudah dimulai sejak usia sangat dini, dan cenderung meningkat seiring waktu.

Dalam konteks Indonesia, peningkatan penggunaan perangkat digital pada anak terjadi sangat cepat, dengan konsekuensi terhadap perkembangan sosial dan perilaku mereka.

Ketika stimulasi datang terlalu cepat dan terlalu sering, otak tidak punya cukup waktu untuk “mencerna pengalaman”. Akibatnya, hal-hal sederhana di dunia nyata mulai terasa kurang menarik.

Ketika Sistem Dopamin Kehilangan Sensitivitas

Dopamin sering disebut sebagai “zat bahagia”, tapi fungsinya jauh lebih kompleks—ia mengatur motivasi, pembelajaran, dan ekspektasi terhadap reward. Pada anak, sistem ini masih berkembang dan sangat plastis.

Asmaradhani, D. T. (2024) menyatakan paparan screen time tinggi terbukti berkaitan dengan meningkatnya impulsivitas dan gangguan fungsi neuropsikologis . Studi lain juga menunjukkan hubungan antara penggunaan layar berlebih dengan kesulitan regulasi emosi, gangguan perhatian, hingga masalah sosial.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top