Salah satu pembahasan utama seminar adalah dua tantangan yang masih dihadapi pendidikan vokasi, yaitu Digital Cognitive Gap dan Industry Competency Gap. Kesenjangan tersebut mencakup kesiapan dalam mengadopsi teknologi pembelajaran serta kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan aktual industri.
Menurut Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, implementasi Education 5.0 dalam pendidikan vokasimembutuhkan optimalisasi sumber daya manusia, kurikulum yang adaptif terhadap industri, kolaborasi lintas sektor, hingga evaluasi pendidikan yang tidak berhenti pada proses, tetapi berorientasi pada dampak.
Kurikulum juga perlu diarahkan pada prinsip siap kerja dan siap usaha, dengan mengacu pada standarkompetensi nasional maupun global.
Transformasi tersebut turut menuntut peningkatan kompetensi dosen dalam pedagogi daring dan hybrid, teknologi pendidikan, Learning Management System (LMS), simulasi, serta metode pembelajaran interaktif.
Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani menyoroti perlunya perubahan orientasi institusi pendidikan vokasi. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mengejar publikasi dan reputasi akademik, tetapi perlu bergerak menuju relevansi, employability, inovasi, impact, dan sustainability.
Transformasi tersebut mencakup penguatan talenta akademik, pembelajaran berbasis future skills, riset dan inovasi berdampak, hilirisasi, serta kemitraan internasional yang strategis. Pemanfaatan AI dan transformasi
digital juga menjadi bagian penting dalam membangun institusi yang data-driven, mulai dari proses pembelajaran dan riset hingga digital academic services, smart campus, tata kelola data, dan keamanan siber.










