Pesan Menohok Dekan ke Lulusan FBS UPMI: Jangan Berhenti Berpikir!

IMG-20250812-WA0000
Dekan FBS UPMI Bali Dr. I Made Sujaya, S.S., M.Hum., melepas calon sarjana/magister.

Sujaya melanjutkan, UPMI patut berbangga, untuk tugas akhir karya inovatif karya sastra/jurnalistik, kita termasuk yang pertama di Bali. 

Moto Baru FBS 

Selain itu, keistimewaan pelepasan kali ini juga ditandai oleh peluncuran tagline atau moto FBS UPMI Bali, yakni kritis, kreatif, dan humanis. Tiga kata kunci ini diambil dari karakteristik keilmuwan di FBS yang menekuni bahasa, sastra, seni, dan budaya.

Ia menjabarkan, Kritis berarti kemampuan berpikir logis, analitis, dan tajam untuk menilai informasi, ide, atau situasi secara objektif. Sikap kritis bukan sekadar mencari kesalahan, tetapi juga mempertanyakan asumsi, menguji bukti, dan menilai relevansi. 

Kreatif berarti kemampuan menciptakan ide, karya, atau solusi baru yang orisinal, imajinatif, dan bermanfaat. Kreativitas tidak hanya menghasilkan sesuatu yang unik, tetapi juga memadukan hal-hal lama menjadi bentuk baru yang relevan.

Humanis merupakan sikap yang menempatkan manusia, kemanusiaan, dan martabatnya sebagai pusat nilai. Humanisme mengedepankan empati, toleransi, penghargaan terhadap keragaman, serta keyakinan bahwa manusia mampu berkembang melalui pendidikan dan kebudayaan.

Dekan Sujaya juga menekankan pesan menohok, bahwa menjadi sarjana di bidang bahasa dan seni bukan sekadar soal ilmu, tapi tentang membangun jiwa, membangkitkan imajinasi, dan menyentuh kemanusiaan.

"Maka, kepada seluruh calon wisudawan FBS UPMI Bali ingatlah: Kalian mungkin tidak akan mengubah dunia sekaligus, tetapi kalian bisa menyalakan satu cahaya kecil—dalam ruang kelas, panggung seni, komunitas budaya, atau dalam tulisan yang menyentuh hati. Itulah tugas mulia seorang sarjana pendidikan bahasa dan seni," pesannya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top