Pertarungan Nilai dalam Kehidupan Remaja Bali di Era Disrupsi Teknologi Informasi: Ancaman Baru Kekerasan Seksual di Era Digital

IMG-20260606-WA0017
Potret remaja Bali. [IST]

DI Bali, remaja tumbuh dalam dua dunia yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, mereka hidup di tengah nilai-nilai tradisi yang mengajarkan tanggung jawab, kesopanan, dan penghormatan terhadap sesama. Di sisi lain, mereka hidup dalam ruang digital yang nyaris tanpa batas, tempat berbagai informasi, tren, dan nilai baru hadir setiap detik melalui layar ponsel.

Pertanyaannya, ketika kedua dunia ini bertemu, siapa yang sebenarnya paling berpengaruh dalam membentuk cara pandang remaja tentang hubungan, cinta, seksualitas, dan perilaku yang dianggap wajar?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika berbagai kasus kekerasan seksual, eksploitasi seksual daring, hingga _digital grooming_ terus bermunculan. Korbannya bukan hanya anak-anak, tetapi juga remaja yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri.

Truna-Truni Bali yang Hidup di Antara Dua Dunia

Generasi muda Bali saat ini menghadapi situasi yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka masih hidup dalam lingkungan yang menjunjung nilai tradisional seperti kebersamaan, tanggung jawab keluarga, dan penghormatan terhadap norma sosial. Namun pada saat yang sama, mereka juga terhubung dengan budaya global yang masuk melalui media sosial, platform video, gim daring, dan berbagai aplikasi digital.

Tidak semua nilai yang datang dari luar bersifat negatif. Banyak informasi bermanfaat yang dapat memperluas wawasan dan membuka peluang bagi remaja. Namun derasnya arus informasi juga membuat mereka harus memilah sendiri mana yang layak dijadikan pedoman hidup.

Ketika proses penyaringan ini tidak berjalan baik, muncul kebingungan dalam memahami batasan hubungan, makna kedekatan emosional, hingga cara memperlakukan diri sendiri dan orang lain.

Ketika Internet Menjadi Guru yang Tidak Selalu Benar

Bagi banyak remaja, internet kini menjadi sumber utama informasi mengenai pergaulan, relasi, dan seksualitas. Masalahnya, internet tidak dirancang untuk mendidik.

BACA JUGA:  Koordinasi Program Prioritas, Kepala Perwakilan BKKBN Bali Bertemu Sekretaris Daerah

Algoritma media sosial bekerja untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Akibatnya, konten yang sensasional, kontroversial, atau memancing emosi sering kali lebih mudah muncul dibandingkan konten edukatif.

Dalam situasi seperti ini, remaja rentan menerima informasi yang keliru tentang hubungan yang sehat. Tidak sedikit yang kesulitan membedakan antara perhatian dan manipulasi, cinta dan obsesi, atau kedekatan emosional dan eksploitasi.

Fenomena _digital grooming_ menjadi salah satu contoh yang perlu diwaspadai. Pelaku biasanya membangun kepercayaan korban secara bertahap melalui media sosial atau aplikasi percakapan sebelum melakukan manipulasi yang mengarah pada eksploitasi seksual.

Menurut Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024, dalam dua belas bulan terakhir sekitar 4 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan seksual non-kontak, yang salah satunya dapat terjadi di ruang digital.

Kekerasan non-kontak ini termasuk dipaksa menyaksikan kegiatan seksual, membaca tulisan yang menggambarkan kegiatan seksual, dipaksa terlibat dalam gambar/foto, atau video kegiatan seksual, diminta untuk mengirimkan teks, gambar/foto, atau video tentang kegiatan seksual.

Sementara itu, penggunaan internet oleh anak Indonesia terus meningkat. Data BPS (Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Bali Tahun 2025) menunjukkan hampir 80.88 persen anak telah menggunakan internet , sementara lebih dari 85.96 persen anak usia 5–17 tahun telah menggunakan telepon seluler.

Mengapa Isu Ini Penting bagi Bali?

Bali tidak hanya menghadapi tantangan perkembangan teknologi, tetapi juga tantangan regenerasi. Data Hasil SUPAS 2025 menunjukkan kelompok usia muda 0–14 tahun masih mencapai sekitar 20,58 persen dari total penduduk Bali pada tahun 2025.

Generasi muda inilah yang nantinya akan menjadi tenaga produktif sekaligus penerus nilai-nilai budaya Bali. Apabila mereka tumbuh tanpa kemampuan menyaring informasi dan membangun relasi yang sehat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh keluarga dan masyarakat.

BACA JUGA:  New Kuta Golf & Ocean View Resmikan Hole 17 Terbaru Dewa's Landing

Karena itu, pembentukan karakter dan literasi digital tidak lagi dapat dipandang sebagai isu tambahan. Keduanya telah menjadi kebutuhan mendasar dalam mempersiapkan generasi masa depan.

PP TUNAS: Membangun Pagar Pengaman di Ruang Digital

Pemerintah telah mengambil langkah melalui PP TUNAS (Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak). Regulasi ini bertujuan memperkuat perlindungan anak di ruang digital, termasuk dari risiko paparan konten berbahaya, eksploitasi seksual daring, _cyberbullying_, dan praktik _grooming_. _Platform_ digital juga dituntut memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan remaja.

Kehadiran PP TUNAS menunjukkan bahwa perlindungan anak di era digital tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga. Negara dan penyelenggara _platform_ juga harus turut bertanggung jawab.

Remaja Tidak Hanya Butuh Perlindungan, tetapi Juga Kompas

Meski demikian, regulasi tidak dapat menyelesaikan semua persoalan. Tidak mungkin seluruh risiko di internet dihilangkan sepenuhnya. Cepat atau lambat, remaja tetap akan berhadapan dengan berbagai informasi, pengaruh, dan pilihan hidup yang harus mereka tentukan sendiri. Karena itu, mereka membutuhkan kompas nilai yang kuat.

Peran Kemendukbangga/BKKBN melalui program prioritas Pembangunan Keluarga seperti Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), dan program pembinaan remaja seperti Generasi Berencana (GenRe) menjadi sangat penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis, pengendalian diri, serta pemahaman mengenai relasi yang sehat dan bertanggung jawab.

Remaja yang memiliki literasi digital dan fondasi nilai yang baik akan lebih mampu mengenali manipulasi, menolak perilaku yang merugikan, serta menghormati dirinya sendiri dan orang lain.

Menjaga Generasi Bali di Era Algoritma

BACA JUGA:  Kemitraan Strategis Bulog dan Petani: Dorong Serapan Beras dan Jagung, Distanpangan Bali Perkuat Peran Pendampingan

Tantangan terbesar hari ini bukanlah menjauhkan remaja dari internet. Hal itu hampir mustahil dilakukan. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan mereka memiliki bekal untuk menghadapi dunia digital dengan bijak.

PP TUNAS dapat menjadi pagar pengaman. Namun pagar saja tidak cukup. Generasi muda juga membutuhkan kompas yang membantu mereka menentukan arah.

Di tengah derasnya arus algoritma, keluarga yang hadir, pendidikan yang relevan, masyarakat yang peduli, dan nilai-nilai luhur yang tetap hidup akan menjadi fondasi penting bagi lahirnya generasi Bali yang tangguh, berkarakter, dan mampu menjaga dirinya di dunia nyata maupun dunia digital.***

Penulis: Ari Listiani.



BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top