BULELENG-fajarbali.com | Konsep mempercantik kota dengan memanfaatkan limbah plastik daur ulang diwujudkan Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui kolaborasi Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng bersama Rumah Plastik Mandiri Buleleng.
Inovasi papan nama jalan berbahan sampah plastik daur ulang ini menjadi bagian dari penataan kawasan Titik Nol Kota Singaraja yang mengedepankan estetika, fungsi, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng, Gede Gunawan Adnyana Putra, menyampaikan bahwa gagasan ini berawal dari arahan Bupati dan Wakil Bupati Buleleng dalam merancang gerakan baru penataan kota, khususnya di kawasan strategis Titik Nol.
“Penataan kawasan tidak hanya harus aman dan tertib, tetapi juga ramah lingkungan. Lampu penerangan jalan dirancang menggunakan PJUTS, kabel ditanam di bawah tanah, dan untuk papan nama jalan kami berpikir kenapa tidak memanfaatkan sampah plastik,” jelasnya saat dikonfirmasi di Rumah Plastik Mandiri Desa Petandakan, Kamis (12/2/2026).
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui diskusi internal dan kolaborasi dengan Rumah Plastik Mandiri Buleleng.
“Proses perancangan memerlukan waktu cukup panjang karena harus menyesuaikan dengan ketentuan Kementerian Perhubungan terkait fasilitas jalan, sekaligus menghadirkan desain yang original dan memiliki identitas Buleleng,”tambahnya.
Sementara itu, Eka Darmawan selaku pemilik Rumah Plastik Mandiri Buleleng menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng kepada timnya dalam mengeksekusi program tersebut.
“Terima kasih sebesar-besarnya kepada Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng yang telah mempercayai kami. Ini merupakan kehormatan bagi kami karena secara pribadi ini adalah proyek pertama yang akan bisa dinikmati terus-menerus oleh masyarakat dan berada di ruang publik,” ujarnya.
Eka menjelaskan, dari sisi desain pihaknya berupaya menghadirkan papan nama jalan yang sangat berbeda dibandingkan daerah lain, tanpa mengesampingkan petunjuk teknis dan regulasi yang berlaku.
“Juknis dari Dinas Perhubungan tetap kami gunakan 100 persen. Namun kami menambahkan ciri khas, mulai dari penggunaan material plastik jenis HDPE yang aman dan tahan cuaca, sentuhan seni Bali, hingga rencana penambahan ukiran dengan gaya Bali,” jelasnya.
Selain itu, papan nama jalan ini dirancang bersifat dinamis, di mana terdapat bagian yang dapat dimodifikasi dan disesuaikan dengan momentum atau agenda tertentu, seperti peringatan HUT Kota Singaraja atau Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dari sisi teknis, Eka memaparkan bahwa untuk memproduksi 10 papan nama jalan beserta tiangnya dibutuhkan sekitar 880 kilogram plastik dalam kondisi sudah tercacah. Jika dihitung dari sampah plastik mentah yang belum dicacah, jumlahnya mencapai lebih dari 1 ton.
“Seluruh sampah plastik tersebut dikumpulkan dari jaringan binaan kami berupa bank sampah dan TPST yang tersebar di seluruh Kabupaten Buleleng,” ungkapnya.
Terkait waktu pengerjaan, Eka menyebutkan bahwa proses terlama justru berada pada tahap pengumpulan bahan baku. Namun setelah material tersedia, proses produksi relatif cepat dengan dukungan peralatan yang memadai.
“Untuk satu papan nama, pengerjaan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari. Secara keseluruhan, dari pengumpulan hingga pemasangan, 10 papan nama dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu bulan,” tambahnya.
Dalam tahap awal penataan kawasan Titik Nol, Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng membutuhkan 10 papan nama jalan untuk lima ruas jalan, masing-masing dipasang di awal dan akhir ruas. Desain papan nama jalan berbahan plastik daur ulang ini juga direncanakan akan didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) milik Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng melalui BRIDA.
Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi pengelolaan sampah plastik, tetapi juga mampu mengangkat citra Kabupaten Buleleng sebagai daerah yang inovatif, kreatif, dan peduli terhadap lingkungan, sekaligus menjadi contoh yang dapat direplikasi oleh daerah lain. @gus









