Perekat geopolimer merupakan perekat geosintetik yang menggunakan bahan yang tidak berasal dari semen. Istilah geopolimer diperkenalkan pertama kali oleh Davidovits pada tahun 1978 yang menemukan adanya ikatan polimerisasi antara aktivator alkalin dengan bahan utama berupa abu terbang dan abu sekam padi (Davidovits, 2008).
Geopolimer merupakan sintesa bahan-bahan alam melalui proses polimerisasi dimana bahan utama dalam pembuatan material geopolimer adalah bahan-bahan yang mengandung unsur silika dan aluminia.
Maka bahan pengganti yang bisa digunakan adalah geopolimer. Penggunaan geopolimer sebagai bahan pengganti semen telah banyak dilakukan sebelumnya.
Dalam pembuatan geopolimer, ada banyak faktor yang memengaruhi karakteristik geopolimer antara lain bahan mentah atau prekursor, temperatur kalsinasi/thermal treatment, ukuran partikel, larutan pengaktif/aktivator, dan proses perawatan.
Selain faktor-faktor tersebut, faktor konsentrasi molaritas larutan aktivator NaOH dapat juga mempengaruhi karakteristik perekat geopolimer (Venkata,et al 2013).
Penelitian tentang penggunanan abu terbang sebagai prekursor yang mengandung silika dan alumina lebih dari 50% diaktifkan dengan alkalin aktivator mampu menghasilkan kuat tekan melebihi semen konvensional.
Kandungan silika yang tinggi juga dimiliki abu sekam padi, limbah keramik/kaca, kaolin dan clay dapat menghasilkan perekat geopolimer dengan kuat tekan lebih dari 20 MPa.
Selain kuat tekan, parameter yang perlu diperhatikan pada perekat geopolimer adalah waktu ikat awal dan waktu ikat akhir. Penggunaan prekursor abu terbang dan ground granulated blast furnace slag (GGBS) dengan rasio yang semakin meningkat menghasilkan waktu ikat yang semakin lama.










