GREEN construction atau konstruksi hijau adalah gerakan berkelanjutan yang bertujuan untuk menciptakan konstruksi yang ramah lingkungan, efisien, dan berbiaya rendah.
Konstruksi hijau mencakup berbagai praktik yang dilakukan untuk mengurangi dampak lingkungan dari proyek konstruksi
Salah satu upaya mewujudkan konstruksi hijau yakni mengurangi penggunaan semen Portland sebagai material pembentuk beton.
Sebab dalam produksinya memerlukan energi yang sangat besar karena terjadi pemanasan hingga temperatur 1400°C-1500°C (Ellis,2019).
Bahan-bahan pembentuk semen terdiri dari batu kapur (CaCO3), pasir silika/tanah liat (SiO2 dan Al2O3) dan oksida besi (Fe2O3).
Bahan-bahan mentah tersebut diproses melalui pemanasan dan kalsinasi hingga terjadi pelepasan gas karbondioksida (CO2) yang merupakan kontributor utama pada emisi gas rumah kaca di atmosfir.
Hasil produksi berupa butiran berbentuk kelereng berwarna kelabu dengan diameter sekitar 2 cm disebut dengan klinker semen Portland.
Produksi tiap ton klinker semen termasuk bahan bakarnya hampir setara dengan satu ton pelepasan gas CO2 ke atmosfir.
Pada tahun belakangan ini, jumlah produksi semen dunia tercatat 4,1 miliar ton per tahun (2023) yang berarti sekitar 4,1 miliar ton gas CO2 telah dilepaskan ke atmosfir setiap tahunnya (https://www.statista.com,2023).
Dengan hasil emisi gas CO2 yang cukup besar dan berdampak negatif terhadap lingkungan, tindakan mitigasi yang bisa dilakukan adalah dengan cara mengganti semen menggunakan perekat yang lebih ramah lingkungan yaitu salah satunya adalah perekat berbahan dasar geopolimer.










