Pengelolaan Sampah Jadi Wisata Edukasi Ramah Anak di Agrowisata Tupai Emas

IMG-20260918-WA0029
Tim Program Udayana Mengabdi (PUM) dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana (Unud) mengembangkan inovasi pengelolaan sampah sebagai bagian dari produk wisata edukasi ramah anak di Agrowisata Tupai Emas, Kota Denpasar. foto: fb/ist

DENPASAR-fajarbali.com | Tim Program Udayana Mengabdi (PUM) dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana (Unud) mengembangkan inovasi pengelolaan sampah sebagai bagian dari produk wisata edukasi ramah anak di Agrowisata Tupai Emas, Kota Denpasar.

Melalui kegiatan bertajuk “Pelatihan Pengelolaan Sampah sebagai Produk Wisata Edukasi di Agrowisata Tupai Emas, Kota Denpasar,” program ini mengintegrasikan edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, pengalaman wisata, dan pembelajaran bagi anak-anak.

Agrowisata Tupai Emas berada di kawasan Ekowisata Subak Sembung atau Ekowisata Uma Palak, Peguyangan, Denpasar Utara. Destinasi ini memiliki karakter yang kuat sebagai wisata edukasi berbasis flora dan fauna.

Berbagai aktivitas telah tersedia bagi anak, mulai dari mengenal dan berinteraksi dengan satwa, mengenal tanaman, menanam bibit, mewarnai, hingga mengikuti aktivitas edukasi daur ulang.

Untuk kunjungan sekolah, pengelola juga telah menyediakan aktivitas yang berkaitan dengan tanaman, satwa, eco-enzyme, serta ketahanan pangan.

Potensi tersebut kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Tim PUM Universitas Udayana dengan menjadikan pengelolaan sampah sebagai pengalaman wisata edukasi, bukan sekadar aktivitas operasional destinasi.

Sampah organik maupun anorganik yang dihasilkan dari kegiatan wisata dan pertanian dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bagi anak untuk mengenal pemilahan sampah, pengolahan bahan organik, pembuatan kompos dan eco-enzyme, serta prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R).

Program ini dilatarbelakangi oleh sejumlah kebutuhan pengembangan di Agrowisata Tupai Emas. Aktivitas edukasi sebenarnya telah tersedia, namun masih perlu dikemas menjadi paket pembelajaran yang lebih sistematis.

Selain itu, diperlukan peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam pelayanan wisata edukasi ramah anak, penyediaan media interpretasi, penyusunan SOP pengelolaan sampah, serta pengemasan aktivitas pengelolaan sampah menjadi pengalaman wisata yang lebih menarik, interaktif, aman, dan menyenangkan bagi anak.

BACA JUGA:  Unwar dan KUB Simbar Segara Kolaborasi Jaga Mangrove

Kegiatan utama dilaksanakan pada 8 Agustus 2026 dengan menghadirkan dua narasumber yang memberikan pembelajaran praktis mengenai pengelolaan sampah.

I Gusti Nyoman Jelantik dari Yayasan Budaya Bali Punggul Hijau memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah secara mandiri, khususnya pengolahan sisa sampah menjadi pupuk organik. Sementara itu, IGA Wiratni A memberikan edukasi mengenai manfaat dan proses pembuatan eco-enzyme dalam skala rumah tangga.

Kegiatan tersebut juga melibatkan 15 mahasiswa untuk membantu merancang signage serta lima dosen Program Studi Sarjana Pariwisata dalam penyusunan SOP sederhana.

Kolaborasi ini menjadi bagian penting dari pendekatan pengabdian karena hasil kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi diarahkan untuk menghasilkan perangkat yang dapat digunakan langsung oleh pengelola Agrowisata Tupai Emas.

Tim pengabdian diketuai oleh Dian Pramita Sugiarti, S.S., M.Hum., dengan anggota Putu Wira Parama Suta, Natasha Erinda P. Moniaga, I Made Rusna, serta melibatkan mahasiswa Program Studi Sarjana Pariwisata.

Program ini didanai melalui DIPA PNBP Universitas Udayana Tahun Anggaran 2026. Salah satu hasil program adalah penyusunan SOP pengelolaan sampah yang dibuat sederhana dan aplikatif agar mudah diterapkan pengelola.

SOP mencakup tahapan pemilahan, pengumpulan, penyimpanan sementara, hingga pengolahan sampah menjadi pupuk organik. Selain itu, tim juga menyusun SOP pembuatan eco-enzyme dengan memanfaatkan sisa kulit buah dan sayuran.

Untuk mendukung penerapan program secara nyata, tim menyerahkan tong komposter, mesin pencacah, dan tong pembakar sampah minim asap kepada pengelola Agrowisata Tupai Emas.

Peralatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk membantu proses pengelolaan sampah, tetapi juga dirancang sebagai media pendukung aktivitas edukasi bagi wisatawan anak.

Salah satu inovasi yang dikembangkan melalui kegiatan PUM ini adalah konsep “Little Eco Ranger: My First Waste Management Experience.” Konsep tersebut dirancang agar anak-anak tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai lingkungan, tetapi terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran melalui lima tahapan utama, yaitu: Kenali → Pilah → Olah → Kreasi → Refleksi.

BACA JUGA:  Yayasan Wastu Lestari dan Pemkab Badung Satu Komitmen Menjaga Lingkungan Bersih dan Sehat 

Melalui rangkaian tersebut, anak dapat belajar mengenali jenis sampah, bermain sambil memilah sampah organik dan anorganik, mencoba pengolahan sederhana, membuat karya dari bahan bekas, serta mengenal pembuatan eco-enzyme atau kompos sederhana.

Selain Little Eco Ranger, tim juga mengembangkan rancangan “My First Agro Experience” yang menggabungkan aktivitas mengenal tanaman, menanam, berinteraksi dengan satwa, mengenal manfaat tanaman, membuat eco-enzyme, mengikuti permainan edukatif, hingga melakukan refleksi pembelajaran.

Dengan konsep ini, potensi pertanian, flora, fauna, dan lingkungan di Tupai Emas dapat dikemas menjadi satu pengalaman belajar yang lebih terstruktur bagi anak.

Program ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di destinasi wisata dapat dikembangkan melampaui fungsi kebersihan lingkungan. Dengan pengemasan yang tepat, aktivitas pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari produk wisata edukasi yang memberikan pengalaman langsung kepada wisatawan, khususnya anak-anak.

Agenda berikutnya diarahkan pada penyempurnaan paket My First Agro Experience dan Little Eco Ranger, termasuk penyusunan alur pengalaman anak, tujuan pembelajaran, storytelling, permainan edukatif, durasi kegiatan, kelompok usia sasaran, jumlah peserta, serta simulasi paket bersama pengelola.

Tahap berikutnya juga dirancang untuk menguji secara langsung produk wisata edukasi pengelolaan sampah kepada anak-anak.

Evaluasi program direncanakan dilakukan setelah tiga bulan dengan melihat implementasi signage dan SOP, penggunaan tong komposter, mesin pencacah dan tong minim asap, serta kepuasan pengelola terhadap program pendampingan.

Luaran kegiatan juga mencakup penyusunan SOP dan signage, penyusunan aktivitas wisata edukasi pengelolaan sampah, penyediaan perangkat pengolahan sampah, serta publikasi kegiatan melalui media massa.

Melalui Program Udayana Mengabdi ini, Unud mendorong kolaborasi perguruan tinggi dan pengelola destinasi dalam menghadirkan inovasi pariwisata yang memiliki manfaat praktis bagi masyarakat.

BACA JUGA:  “Kenali Lautmu, Wujudkan Aksimu”: Seruan Kolaborasi Multi-Pihak Jaga Keberlanjutan Bahari

Pengembangan Little Eco Ranger diharapkan menjadi langkah awal untuk menjadikan pengelolaan lingkungan sebagai pengalaman wisata yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan kepedulian anak terhadap sampah dan lingkungan sejak dini. [gde/rel]

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top