Pemuda ini Bakal Bawa Praktik Baik Pekan Iklim Bali ke Tapanuli Tengah

IMG-20261017-WA0015
Rafael Harselio Sianturi (kiri), pemuda asal Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, bersama bersama Direktur Avirama Foundation Gede Herry Arum Wijaya, menunjukkan gantungan kunci berbahan tutup botol plastik, Sabtu (17/10/2026) di Sanur, Denpasar. [foto: fb/gde]

Rafael tidak hanya tertarik pada hasil akhirnya, tetapi lebih kepada proses dan alat-alat sederhana. Alat yang diperlukan untuk membuat pernak-pernik dan gantungan kunci hanya setrika, kertas (back paper), lem, cetakan kue dan pisau cutter/kater. 

"Jadi pengolahan ini sudah level upcycling, bukan lagi recycling. Proses mengubah barang bekas, limbah, atau material yang tidak terpakai menjadi produk baru yang memiliki nilai guna, fungsi, atau nilai ekonomi yang lebih tinggi," kata dia. 

Rafael berencana segera kembali ke kampung halamannya untuk merealisasikan project tersebut. Pasalnya, di Tapanuli Tengah masih menyisakan permasalah sampah sisa banjir bandang tahun lalu. 

Berbekal pengalaman di Pekan Iklim Bali 2026, pemuda yang bercita-cita menjadi petani ini, bertekad memberikan kontribusi nyata bagi tanah kelahirannya. "Nanti saya bentuk tim. Kita komunikasi dulu dengan pemerintah daerah, lalu eksekusi," tegasnya. 

Pada kesempatan yang sama, Direktur Avirama Foundation Gede Herry Arum Wijaya mengatakan, Avirama yang berdiri pada April 2025 di Bali Utara dalam kegiatan ini mengajak para peserta untuk peduli lingkungan.

Gantungan kunci dan pernak-pernik yang dihasilkan memiliki keunikan tersendiri. Kuat, berkarakter dan kaya warna. Bentuknya pun sangat variatif, menyesuaikan selera. Namun didominasi hewan-hewan laut. 

Untuk gantungan kunci buatan tangan, dibanderol Rp. 10.000. Sedangkan pabrikan Rp.30.000. "Hasil pabrikan memang lebih mahal karena ketebalannya 80 mm," jelasnya. Produknya pun diklaim sangat diminati pasar. Selain pernak-pernik, pihaknya juga telah membuat rumah contoh berbahan plastik. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top