Kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dinilai menjadi kunci menjaga keberlanjutan pariwisata sekaligus memperkuat posisi Bali menuju visi Indonesia Emas 2045.
Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, perbankan, akademisi, dan investor untuk merumuskan strategi pembangunan pariwisata berkelanjutan di Pulau Dewata.
Dalam arahannya saat membuka kegiatan, Gubernur Koster menekankan tantangan penyusutan lahan, alih fungsi sawah, serta
ketergantungan pangan dari luar daerah.
Ia menyajikan data menohok, bahwa luas Bali 5.640 kilometer persegi, sekarang jumlahnya makin berkurang. Bahkan jumlah sawah juga menyusut.
Namun di temgah tantangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Bali tetap
tercatat 5,82 persen dengan kunjungan wisatawan asing mencapai 7,05 juta orang melalui Bandara Internasional Gusti Ngurah Rai.
“Bali itu tidak sepi. Saya terus pantau jumlah wisatawan ke Bali wisatawan datang berapa dan pergi berapa melalui Bandara Ngurah Rai. Itu 7,05 juta adalah angka capaian tertinggi selama
wisatawan asing berada di Bali," jelasnya.
Ia pun mengaku setiap saat melakukan pemantauan bersama Angkasa Pura. Menurut dia, Bali itu sangat unik. Meski pulau kecil, penduduk sedikit tapi
khasiatnya besar.
Lebih lanjut, Gubernur Bali dua periode ini menilai pembangunan infrastruktur
nasional belum sepenuhnya mempertimbangkan karakteristik
daerah.
“Selama di Banggar DPR RI tiga periode belum pernah ada rumusan memperhatikan kebutuhan daerah secara spesifik sesuai dengan karakteristik daerah. Jadi, kita tidak bisa membangun
insfrastruktur sekala besar hanya dari APBD Bali,” ujarnya.










