Pelantikan Pengurus APTISI Bali 2025-2030, Perguruan Tinggi Swasta Bertekad Jadi Pelopor Inovasi

IMG-20260110-WA0000
Kepengurusan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah Bali masa bakti 2025-2030 disahkan melalui upacara pelantikan, bertempat di Auditorium Redha Gunawan, kampus Universitas PGRI Mahadewa (UPMI) Bali, Jl. Seroja, Tonja, Denpasar, Jumat (9/1/2026).

DENPASAR-fajarbali.com | Struktur Kepengurusan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah Bali masa bakti 2025-2030 disahkan melalui upacara pelantikan, bertempat di Auditorium Redha Gunawan, kampus Universitas PGRI Mahadewa (UPMI) Bali, Jl. Seroja, Tonja, Denpasar, Jumat (9/1/2026).

APTISI Bali kini dipimpin oleh Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum., berdasarkan hasil Musyawarah Provinsi VII, belum lama ini. Suarta yang juga Rektor UPMI ini, didampingi struktur kuat di bawahnya.

Wakil Ketua Bidang Organisasi dipercayakan kepada Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc, M.MA (Rektor Universitas Dwijendra), Wakil Ketua Bidang Kebijakan dan

Pengembangan Prof. Dr. Drs. I Dewa Nyoman Oka, M.Pd. (Rektor IKIP Saraswati Tabanan), Wakil Ketua Bidang Monitoring dan Evaluasi Dr. Dra. Ni Ketut Karwini, M.M (Ketua STIMI Handayani), Wakil Ketua Bidang Kerjasama antarinstitusi Dr. I. Made Sudjana, S.E., M.M.,CHT., CHA (Rektor Institut Pariwisata dan Bisnis lnternasional.

Wakil Ketua Bidang Sumber
Daya Dr. I Dewa Made Krisna Muku, S.T., M.T (Rektor INSTIKI), Wakil Ketua Bidang Dana dan Usaha Dr. Dadang Hermawan (Rektor Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali).

Posisi Sekretaris dijabat oleh IGede Putu Darma Suyasa, S.Kp., M.Ng., Ph.D
(Rektor Institut Teknologi dan Kesehatan Bali), didampingi Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, M.M., M.Hum) (Rektor Universitas Ngurah Rai).

Sedangkan Bendahara dipercayakan kepada Dr. I Made Artana, S.Kom., M.M (Rektor Universitas Primakara didampingi Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, S.E., M.MA.,MA (Rektor Universitas Dhyana Pura).

Ketua Bidang Organisasi dijabat Dr. I Wayan Sugiartana,S.T.,M.M (Ketua STISPOL Wirabakti), Ketua Bidang Kebijakan dan Pengembangan Dr. Ir. I Putu Santika,MM, Ketua Bidang Monitoring dan Evaluasi Dr. I WayanNumertayasa,S.Pd.,M.Pd (Rektor ITP Markandeya).

Ketua Bidang Kerja Sama Antarinstitusi I Wayan Rediyasa,S.E.,M.Tr.Par (Direktur Poltek OTC Gianyar), Ketua Bidang Sumber Daya Dr. I Kadek Pranajaya, S.T., S.H., M.T., M.H (Rektor IDB Bali), Ketua Bidang Dana dan Usaha : Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep, M.Si (Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Buleleng).

BACA JUGA:  Wisuda ke-91, Undiknas Lepas 1004 Lulusan. Siap Diadu di Dunia Kerja

Adapun Penasihat, terdiri dari; Dr. Drs. I Made Sukamerta,M.Pd (Ketua APTISI sebelumnya),Prof. Dr. Ir. I Nyoman Sri Subawa, S.T.,S.Sos., M.M, IPM (Rektor Universitas Pendidikan Nasional), Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM (Rektor Universitas Bali Intemasional), Prof. Dr. Ir. Suranaya Pandit,M.P (Rektor Universitas Warmadewa).

Lalu, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S (Rektor Universitas Hindu Indonesia), dan Prof. Dr. I Ketut Sukawati Lanang Putra Perbawa,S.H.,M.Hum (Rektor Universitas Mahasaraswati). Gubernur Bali dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) VIII bertindak selaku Pelindung.

Dalam sambutannya, Ketua APTISI baru, Prof. Suarta, mengingatkan bahwa saat ini perguruan tinggi menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Akreditasi tidak lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan cermin mutu institusi dan program studi.

Oleh karena itu, di bawah kepengurusan anyar ini, APTISI Bali berkomitmen untuk menjadi mitra strategis PTS dalam penguatan tata kelola, penjaminan mutu internal, serta pendampingan akreditasi yang berkelanjutan.

Selain itu, masih kata Profm Suarta, implementasi Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) menuntut perubahan paradigma pembelajaran. MBKM harus dimaknai bukan sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan untuk meningkatkan relevansi lulusan, memperluas jejaring dengan dunia usaha dan industri, serta memperkuat kolaborasi antarkampus.

"APTISI Bali akan mendorong praktik MBKM yang adaptif, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik PTS di Bali," ujarnya.

Di sisi lain, transformasi digital merupakan keniscayaan. Digitalisasi tata kelola, pembelajaran, riset, dan layanan akademik harus kita respons secara serius.

"APTISI Bali berkomitmen mendorong literasi digital, pemanfaatan teknologi informasi, serta penguatan kapasitas SDM agar perguruan tinggi swasta tidak tertinggal, tetapi justru menjadi pelopor inovasi," tegas Prof. Suarta.

Dalam konteks Bali, seluruh upaya tersebut perlu diselaraskan dengan nilai kearifan lokal dan filosofi Tri Hita Karana, sehingga pendidikan tinggi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter, berbudaya, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

BACA JUGA:  Pencegahan Stunting dari Hulu, BKKBN Sasar Pelajar SMA dan Remaja

"Kami menyadari tugas ini tidak ringan. Namun dengan sinergi, kolaborasi, dan semangat gotong royong, saya yakin APTISI Bali mampu menjadi organisasi yang solid, progresif, dan bermartabat," jelasnya.

"Kami mohon dukungan dari APTISI Pusat, LLDIKTI Wilayah VIII, pemerintah daerah, serta seluruh pimpinan perguruan tinggi swasta, agar APTISI Bali dapat menjalankan perannya secara optimal demi kemajuan pendidikan tinggi dan masa depan generasi Bali. Nanti tiap bulan kita rapat rutin, baik online maupun offline secara giliran (tuan rumah),"imbuh Prof. Suarta memungkasi.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum APTISI Pusat Dr. Ir. H.M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I., merasa optimis dengan kepengurusan APTISI Bali, sebab PTS-PTS di Bali selalu bisa menunjukkan prestasi.

Budi Djatmiko pun mengungkap sejumlah kesalahan fatal atau "dosa" pimpinan PTS yang tidak boleh dilakukan oleh anggota APTISI jika ingin PTS yang dipimpinnya tetap eksis. Catatan "dosa" rektor itu ditulisnya setelah mempelajari masalah beberapa PTS yang "gulung tikar".

Pertama, kata dia, rektor tidak memahami fungsi sistem penjaminan mutu, baik internal, eksternal serta audit mutu. Kedua, rektor tidak tahu teknik pemasaran sehingga jumlah mahasiswa tidak meningkat. Ketiga, tidak mampu menghasilkan dan meningkatkan revenue kampus, tidak mengikuti perkembangan IPTEK, tidak bersinergi, tifak punya managemen strategis (visi misi tidak jelas).

Selanjutnya, rektor tidak pernah membuat rencana strategis, tidak pernah mengukur kinerja tahunan, bulanan, tidak mengetahui KPI tiap anak buah, tidak pernah tahu permintaan KPI dari BAN PT LAM Dikti, dan Yayasan, tidak pernah serta mempertangungjawabkan kinerja.

"Jadi itulah beberapa dosa rektor yang saya rumuskan dari renungan," ungkap Budi Djatmiko, sembari menegaskan kembali agar rektor di lingkungan APTISI Bali tidak mengulang "dosa" tersebut.

BACA JUGA:  Dukung UMKM Lokal, Tim Pengabdian Unmar  Tingkatkan "Value" Telengis 

Turut hadir pada pelantikan itu, Gubernur Bali diwakili Staf Ahli bidang Ekonomi dan Keuangan I Wayan Ekadina, Plt. Sekretaris Daerah Kota Denpasar Edi Mulya, Kepala LLDikti VIII Dr. Ir. IGL. Eratodi, ST., MT., Ketua PGRI Bali, serta undangan lainnya.

Pemprov Bali sangat mengapresiasi peran PTS di Bali dalam menyukseskan program-program strategis di bidang pendidikan, khususnya Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) yang digagas Gubernur Wayan Koster.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top