Pasca Rabies Telan Korban Jiwa, Diskes Bangli Ingatkan Masyarakat Jangan Sepelekan Kasus Gigitan

BANGLI-fajarbali.com | Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli mengingatkan kepada masyarakat seberapa pun ringan luka yang disebabkan gigitan anjing, sebaiknya tetap melakukan pemeriksaan diri pelayanan kesehatan terdekat, baik ke rumah sakit maupun Puskesmas. Jangan sampai ada masyarakat lagi yang menyepelekan kasus gigitan yang disebabkan anjing. Walaupun itu, anjing peliharaan sendiri.

Hal tersebut, disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli, dr. I Nengah Nadi didampingi Kasi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Diskes Bangli, I Nyoman Sudarma, saat ditemui Senin (04/03/2019) pasca tewasnya seoarang warga banjar Kedui, Tembuku, yang diduga suspeck rabies.

Disampaikan, sejak kasus rabies mulai merebak tahun 2010 hingga tahun 2019, tercatat sebanyak Sembilan (9) kasus menyebabkan korban meninggal dunia karena suspeck rabies. Karena itu, disampaikan, dari Dinas Kesehatan bersama jajarannya, terutama Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di desa, telah melakukan berbagai upaya. “Salah satunya sosialisasi akan bahaya rabies telah terus dilakukan ke semua pemangku kepentingan, termasuk ke sekolah-sekolah hingga desa pakraman. Sosialisasi sudah kita lakukan diseluruh Bangli. Bagaimana cara menghindari gigitan. Kalau sudah ada gigitan bagaimana melakukan pencegahan,” ungkap Kadiskes dr. Nadi.

Untuk kasus terakhir yang menyebabkan I Nengah Nedeng (47) warga banjar Kedui, Tembuku meninggal dunia karena suspeck rabies, lantaran gigitan yang dialaminya

Dirasakan awalnya kecil, tidak akan menyebabkan apa-apa. Padahal, keponakannya yang sehari sebelumnya digigit sudah mencari VAR. Dia juga sudah melakukan pencucian luka dengan sabun. “Mungkin karena nasib yang bersangkutan tidak mencari pelayanan kesehatan,” sebutnya.

Karena itu, sosialisasi kembali akan digencarkan. Disampaikan, untuk penanganan awal kasus gigitan anjing, pertama yang bersangkutan harus melakukan pencucian luka gigitan dengan mengunakan sabun selama 10 hingga 15 menit dengan air mengalir. “Kenapa 10 hingga 15 menit dilakukan pencucian dengan menggunakan sabun dibawah air mengalir? Itu agar virus rabies larut dalam sabun dan mati,” jelasnya. Setidaknya dengan cara itu, lanjut dr. Nadi, sekitar 80 persen hingga 90 persen virus rabies akan mati dan larut terkena sabun. “Sisanya 10 persennya mesti tetap ke pelayanan kesehatan, apakah anjing yang menggigit dicurigai atau tidak beresiko tinggi rabies. Tentunya, di pelayanan kesehatan di desa sudah pasti tau protap untuk penanganannya,” tegasnya.

Lebih lanjut, dipaparkan, saat ini pasokan VAR juga masih cukup banyak tersedia di Diskes Bangli. “Hingga saat ini, stoak VAR di Bangli sebanyak 785 vial. Dibandingkan dengan angka kasus gigitan yang terjadi saat ini, rata-rata VAR ini masih cukup untuk dua hingga tiga bulan kedepan. Selain itu, stock VAR di Propinsi juga masih banyak. Kita selama ini, belum pernah kekurangan VAR. Dan, tahun ini kita juga akan kembali mengadakan VAR,” tegasnya.

Sementara untuk pasokan SAR, saat ini juga masih tersedia sebanyak sekitar 20 vial dan stock di Propinsi juga masih cukup.

Sedangkan sesuai data, angka kasus gigitan anjing sepanjang tahun 2018 mencapai 1.623 kasus. Kasus gigitan ini, masih terjadi pada bulan Januari 2019 tercatat sebanyak 186 kasus gigitan dan bulan Pebruari 2019 tercatat sebanyak 190 kasus gigitan. Sedangkan, jumlah korban jiwa yang meninggal akibat suspeck rabies sejak tahun 2010 hingga tahun 2019 di kabupaten Bangli,  tercatat sebanyak sembilan kasus kematian. Untuk itu, kembali ditekankan agar masyarakat tidak lagi menyepelekan jika mengalami kasus gigitan anjing.

Disisi lain, suasana duka masih menyelimuti keluarga almarhum I Nengah Nedeng (47) asal banjar Kedui, Desa Tembuku, Bangli yang meninggal dunia akibat gigitan anjing rabies pada tanggal 28 Februari 2019 lalu di RSU Bangli. Pasalnya, pihak keluarga tidak menyangka sama sekali karena gigitan anakan anjing miliknya dan menyebabkan luka kecil pada bagian ibu jari tangan kanannya, justru menyebabkan yang bersangkutan meregang nyawa. Korban bapak anak satu ini, meninggal dunia setelah dua bulan pasca tergigit anjing yang baru dipeliharanya selama sebulan lebih dan didapatkan dari rumah menantunya di banjar Bukti, desa Yangapi, Tembuku. Karena itu, pihak keluarga pun mengaku masih trauma dan was-was. Terlebih, anjing yang menggigit korban hingga kini belum ditemukan karena kabur saat hendak ditangkap. Sementara jenazah korban sepulang dari RSU Bangli telah langsung dikuburkan pada Jumat malam lalu. (ard)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Mas Sumatri Canangkan Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM

Sen Mar 4 , 2019
AMLAPURA-fajarbali.com | Dalam rangka menuntaskan Zona Integritas dan wilayah Bebas Korupsi di Kabupaten Karangasem terutama pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Karangasem, Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri membuka acara Pencanangan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) serta […]
BPD BALI