NCPI Perkuat Tali Persahabatan Bali dengan Australia

IMG-20260731-WA0001
Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali menggelar “Great Sharing Session” dengan tema “Bali-Australia: Memperkuat Masa Depan Persahabatan Internasional melalui Spirit Bali”, Kamis (30/7) di Bali International Hospital KEK Sanur Denpasar.

DENPASAR-fajarbali.com | Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali menggelar “Great Sharing Session” dengan tema “Bali-Australia: Memperkuat Masa Depan Persahabatan Internasional melalui Spirit Bali”, Kamis (30/7) di Bali International Hospital KEK Sanur Denpasar.

Ketua NCPI Bali Agus Maha Usadha mengatakan hubungan antara Indonesia dan Australia, Bali memainkan peran strategis baik sebagai tujuan kelas dunia maupun sebagai jembatan persahabatan antara kedua negara. Hubungan bilateral yang erat dan saling menguntungkan ini tercermin dari tingginya minat warga Australia terhadap Bali sebagai tujuan wisata—dan bahkan sebagai “rumah kedua” bagi banyak orang.

Hubungan yang langgeng ini harus terus dibina dan diperkuat melalui kerja sama yang bermakna dan menguntungkan kedua negara. Meskipun kedatangan pengunjung Australia terkadang mengalami fluktuasi akibat kondisi ekonomi global dan keadaan luar biasa lainnya, perubahan sementara tersebut tidak mengurangi ikatan antarmasyarakat yang kuat atau potensi kolaborasi yang signifikan dalam bidang pariwisata, kelestarian lingkungan dan pengembangan budaya.

Mengingat hal ini, NCPI Bali memprakarsai kunjungan resmi Jenderal (Purn) David Hurley, AC,CVO,DSC sebagai wujud nyata komitmennya untuk memperkuat persahabatan internasional dan kerja sama bilateral.

Agus Maha Usadha melanjutkan, Great Sharing Session ini bertujuan untuk menyediakan platform strategis untuk dialog dan pertukaran ide guna memperkuat persahabatan Indonesia-Australia melalui diplomasi budaya, berbagi pengetahuan, dan keterlibatan antarmasyarakat.

Mendorong kolaborasi antara pemangku kepentingan Indonesia dan Australia dalam mempromosikan pariwisata berkelanjutan, pelestarian lingkungan, dan pengembangan budaya.

Menjajaki peluang kerja sama strategis yang memperkuat peran Bali sebagai Jembatan Persahabatan Internasional dan memperkuat hubungan bilateral jangka panjang.

Dari paparan para pembicara terungkap pentingnya relationship dan kompetensi SDM (Sumber Daya Manusia). Di Bali ini banyak hal yang harus dikerjasamakan, baik dari sisi pendidikan maupun kesehatan. Mengingat pertumbuhan pariwisata ataupun situasi global saat ini harus didasarkan pada kemampuan beradaptasi.

BACA JUGA:  Gubernur Koster Resmikan Tempat Melasti Terbesar di Bali

“SDM tidak hanya diperlukan untuk daya kompetisi, tapi juga tentang bagaimana memahami kultur kita ‘in the long run’. Sehingga dengan akar kultur yang kuat di Bali, ini menjadi dasar untuk kita meng-improve diri ke dalam untuk persiapan kompetisi. Itu yang kita coba dorong dari aktivitas ini,” ungkap Agus Maha Usadha.

“Hari ini kita ada di KEK Sanur, ada ikon yang notabene adalah partisipasi dari Australian investment. Tentu adanya trust seperti ini untuk pelayanan rumah sakit atau kesehatan terhadap tamu pada saat mereka berwisata, itu akan match,” tambahnya.

Ini merupakan kesempatan bagi tenaga kerja di bidang kesehatan untuk meng-improve diri dengan adanya standar internasional yang berbeda. SDM perlu terus di-improve untuk dua sisi: ke dalam untuk menjaga budaya (termasuk pertanian yang menjadi akar konektivitas pariwisata).

Dan ke luar untuk menjadi daya saing. Karena kalau tidak, hanya akan menjadi penonton.Pemaparan dari Prof. Wyasa Putra dan Bagus Sudibya juga menekankan tentang ‘how we improve our’ SDM, tidak hanya bicara pariwisata tapi juga bagaimana budaya itu punya korelasi terhadap ekonomi.

Hal senada disampaikan Intan Purwita dari Mediterranean yang mengatakan dengan kolaborasi ini bagaimana bisa mempertahankan angka kedatangan turis Australia ke Bali. Yang membuat mereka datang dan tertarik ke Bali itu adalah budaya.

“Sehingga challenge kita adalah bagaimana tetap mengembangkan budaya Bali, serta melatih dan memberikan awareness kepada SDM kita bahwa budaya adalah fondasi yang tidak bisa ditinggalkan dan harus dilestarikan,” ujarnya.

Dijelaskan budaya inilah yang menjadi daya tarik mutlak bagi para turis, khususnya dari Australia. Memang pelestarian budaya pasti perlu dukungan ekonomi. Upacara keagamaan, upacara adat, dan kegiatan lainnya butuh dukungan faktor ekonomi, dan ekonomi ini didukung oleh pariwisata yang berkembang.

BACA JUGA:  Median Usia Kawin Pertama Perempuan Provinsi Bali Tahun 2021

“Jadi ini adalah sebuah ekosistem: pariwisata berkembang, budaya dikembangkan, dan SDM dilatih sehingga menjadi ekosistem yang sustainable.Selain budaya, infrastruktur juga sedang dikembangkan,” ungkap Intan.

Menurut dia, keberadaan pariwisata yang berkembang akan mendukung ekonomi masyarakat Bali sehingga mereka tetap bisa berbudaya dengan ekonomi yang stabil.

Terkait tantangan ke depan, terberat untuk upgrade SDM berawal dari mindset diikuti dengan pelatihan, kurikulum, tenaga latih, para guru, dan ekosistem yang mendukung anak-anak untuk bisa lebih confident menunjukkan performanya di dunia hospitality. Selanjutnya adalah kemampuan berbahasa Inggris.

Sharing Session yang dihadiri Gubernur Bali diwakili Staf Ahli Cok Bagus Pemayun, Konjen Australia dan ratusan peserta dari berbagai kalangan tampil sebagai pembicara Akademisi Unud Prof. Dr. Ida Bagus Wyasa Putra,S.H., M.Hum., David John Hurley, AC, CVO, DSC, FTSE (Mantan Gubernur Australia), Penasehat NCPI Bagus Sudibya dan Kepala Imigrasi Ngurah Rai Bugie Kurniawan, A.Md.Im., S.IP.,M.Si.

Kegiatan diakhiri dengan tour keliling BIH untuk meninjau fasilitas layanan kesehatan yang ada. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top