“Nadi Cita Tampaksiring”, Amarawati Art Community Pamerkan Aliran Kreativitas Lintas Generasi di Griya Santrian Gallery

u7-2025-11-14-at-21.49.43
Nadi Cita Tampaksiring, aliran kreativitas lintas batas di Griya Santrian Gallery.

Keunikan pameran ini terletak pada keberagamannya, mencakup lukisan, patung, instalasi, ukiran tulang, hingga ogoh-ogoh khas Tampaksiring. Hal ini sejalan dengan pembacaan para kurator atas sejarah budaya rupa di Tampaksiring, yang membentang sejak masa prasejarah (temuan Nekara Pejeng) hingga perkembangan seni modern dan kontemporer.

Susanta Dwitanaya menjelaskan bahwa Tampaksiring, yang diapit oleh Sungai Pakerisan dan Petanu, merupakan lokus dengan situs-situs arkeologis penting seperti Pura Pegulingan dan Gunung Kawi. Bahkan pada era pra-kemerdekaan (1930-an), tokoh-tokoh seperti Ida Bagus Mukuh dan Ida Bagus Grebuak telah melukis kehidupan sehari-hari, di mana karya Grebuak yang melukis pertandingan sepakbola tahun 1929 kini tersimpan di Museum Volkenkunde Belanda.

Selain seni lukis, pameran ini juga menampilkan seni ukir tulang yang telah berkembang melintasi tiga generasi, serta seni ogoh-ogoh yang kini menjadi ikon Tampaksiring. Ogoh-ogoh khas Tampaksiring dikenal viral di media sosial sejak 2018 berkat karakter yang realistik, gestur natural, dan raut wajah ekspresif, menunjukkan proses reinvented tradition yang bergerak secara dinamis.

Melalui keberagaman ini, pameran "Nadi Cita Tampaksiring" secara sadar menerabas sekat-sekat usia, generasi, disiplin, dan medium. Tidak ada lagi dikotomi antara fine art dan craft. Seni ukir yang bersanding dengan seni lukis, gagang keris berukir bersanding dengan patung, semua luruh dalam pembacaan tunggal sebagai "budaya rupa" yang tumbuh dari lokus dan situs kesejarahan.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top