FSO Cinta Natomas mengabdi selama 12 tahun di perairan Tuban menjaga ketahanan energi, terutama BBM untuk Indonesia. Keberadaan kapal FSO sangat penting karena produksi minyak mentah harus dibawa ke kilang untuk diolah menjadi BBM siap pakai.”FSO Cinta Natomas buatan 1972 itu kini harus melalu tahapan FUPP (Formulir Usulan Pelepasan dan/atau Penghapusan aset). Namun sebelum dikembalikan pada negara, diperlukan tahapan yang cukup panjang dan melibatkan banyak pihak. Pertamina EP harus mengembalikan FSO Cinta Natomas kepada negara dalam kondisi bersih dan aman,”lanjutnya.
Upaya itu membutuhkan berbagai proses. Salah satunya memastikan tak ada lagi residu maupun oil sludge yang tertinggal. Salah satu prosesnya adalah proses pembersihan 12 kompartemen tangki dan memastikan residu tak keluar dari kapal saat proses ini dilakukan.”Kami juga mengupayakan beberapa metode khusus termasuk water treatment dalam mengolah liquid dalam tangki menjadi air yang mempunyai baku mutu air laut. Kapal itu miring sebagai salah satu proses pembersihan sisa residu yang masih tertinggal di tangka,”jelas Kapten Agus Mulyanto, Asst. Manager Offshore Terminal PT Pertamina EP Sukowati Field.
Di tengah proses FUPP (Formulir Usulan Pelepasan dan/atau Penghapusan aset) yang panjang, FSO Cinta Natomas menunjukkan kontribusi finansial yang jarang disorot. Meskipun dalam status lay-up (tidak beroperasi), keberadaannya di Celukan Bawang sejak 2018 tetap menjadi sumber pendapatan negara.
Menurut Staf KSOP Celukan Bawang, I Nyoman Purna, FSO ini secara konsisten menyetorkan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) per bulan kepada kas negara.”Dampaknya untuk negara masih dirasakan dan pihak Pertamina EP sangat kooperatif,”ungkapnya, mengapresiasi ketaatan Pertamina EP. @gus










