Pemerintah sebagai pengayom, juga tentu harus memberikan payung peneduh dalam konteks kebijakan dan regulasi yang mendukung implementasi Circular Economy, serta mampu memberikan insentif dan dorongan bagi industri untuk mengadopsi praktik-praktik berkelanjutan.
Di sisi lain, industri, sebagai stakeholders yang berperan dalam perekonomian juga seyogyanya mampu mengimplementasikan bisnis yang berkelanjutan, melalui peran aktif dalam mendesain produk yang dapat didaur ulang dan memiliki siklus hidup yang lebih panjang, serta mengadopsi praktik-praktik bisnis berkelanjutan.
Masyarakat, pun menjadi elemen penting dalam mengimplementasikan sistem terintegrasi ini sebagai aktor dengan mengubah perilaku konsumen menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan.
Masyarakat juga harus mampu mengelola limbah dengan bijak, seperti mendaur ulang dan memilih produk ramah lingkungan, serta berpartisipasi aktif melalui kesadaran dalam inisiatif lokal dan mendukung perubahan ke arah Circular Economy.
Bali yang Berkelanjutan
Penerapan Close Loop-Circular Economy di Bali tidak hanya menjadi solusi bagi permasalahan lingkungan dan limbah yang semakin mendesak, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk mencapai pembangunan berkelanjutan yang harmonis dengan nilai-nilai lokal seperti Tri Hita Karana.
Kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, masyarakat, serta multistakeholders lainnya menjadi fondasi utama dalam menggerakkan perubahan Circular Economy menuju SustainaBALI, mewujudkan sustainability goals untuk Bali yang berkelanjutan, di mana keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan dapat terwujud.










