SDM Unggul untuk Indonesia Emas 2045
Prof. Hafid Abbas dari Universitas Negeri Jakarta menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 hanya dapat dicapai dengan SDM unggul yang lahir dari keluarga berkualitas. “Pendidikan, kesehatan, dan pemerataan pembangunan harus berjalan seiring. Tanpa itu, bonus demografi hanya akan menjadi beban, bukan peluang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tantangan menuju 2045 cukup besar. Pertama, dari sisi kependudukan, Indonesia akan memasuki era penduduk menua sehingga kualitas keluarga harus dipersiapkan sejak dini. Kedua, standar hidup harus dijaga melalui akses pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja. Ketiga, sumber daya alam harus dikelola secara berkelanjutan.
Keempat, sistem sosial perlu diperkuat untuk menjaga kohesi masyarakat. Kelima, prioritas pembangunan harus konsisten agar Indonesia benar-benar dapat mencapai status negara maju saat genap 100 tahun kemerdekaan.
Prof. Hafid menegaskan bahwa hanya dengan SDM sehat, terdidik, dan produktif, bonus demografi dapat dioptimalkan menjadi peluang emas menuju Indonesia Emas 2045.
Pandangan Para Penanggap
Dalam sesi tanggapan, Budi Utomo dari FKM Universitas Indonesia menyampaikan hasil analisis manfaat-biaya program KB. Menurutnya, setiap Rp1 investasi KB akan menghasilkan manfaat Rp108 pada periode 2020–2045.
Ia menekankan bahwa optimasi KB tidak hanya dilihat dari sisi fiskal, tetapi juga harus berbasis masyarakat. Pemberdayaan keluarga, penguatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) komunitas, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor kunci agar program KB benar-benar membumi dan berkelanjutan.










