Ia juga menyoroti perencanaan keluarga sebagai kunci kesetaraan gender. Akses kontrasepsi yang merata memungkinkan perempuan melanjutkan pendidikan lebih tinggi, meningkatkan partisipasi kerja, serta memperkuat kontribusi dalam pembangunan nasional.
Ia mengapresiasi capaian Indonesia dalam pemenuhan permintaan kontrasepsi yang tinggi yaitu sebesar 86%, meski tetap mengingatkan adanya tantangan berupa penurunan unmet need yang angkanya masih berkisar 11% serta disparitas antar wilayahnya.
Revitalisasi Kebijakan dan Cafetaria Method
Prof. Terence H. Hull, pakar demografi dari Australian National University, menegaskan perlunya revitalisasi kebijakan KB melalui cafetaria method. Pendekatan ini memastikan keberagaman metode kontrasepsi sehingga setiap pasangan dapat memilih sesuai kebutuhan reproduksi.
Prof. Hull menjelaskan bahwa pendekatan ini bukan hal baru. Sejak awal berdirinya, BKKBN telah memperkenalkan cafetaria method untuk menjamin hak keluarga. Namun, dalam dua dekade terakhir, keberagaman pilihan semakin menyempit sehingga perlu direvitalisasi.
“Revitalisasi berarti menghidupkan kembali keberagaman metode kontrasepsi, bukan sekadar satu pilihan dominan. Dengan demikian, hak reproduksi perempuan dapat benar-benar dijamin,” tegasnya.
Selain itu, Prof. Hull menekankan pentingnya penguatan data kependudukan dan pendidikan demografi di sekolah. Literasi demografi sejak dini diyakini akan memperkuat kesadaran generasi muda dalam membangun keluarga berkualitas sekaligus mendukung pembangunan manusia berkelanjutan.










