Selain mata kering, penggunaan perangkat digital yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan keluhan yang dikenal sebagai digital eye strain atau ketegangan mata digital.
Kondisi ini ditandai dengan mata lelah, rasa tidak nyaman di sekitar mata, sulit fokus, sakit kepala, hingga penglihatan kabur setelah bekerja atau belajar dalam waktu yang lama.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keluhan-keluhan tersebut semakin sering ditemukan pada individu yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar.
Mahasiswa dan pekerja termasuk kelompok yang rentan mengalami masalah ini. Aktivitas seperti mengikuti perkuliahan daring, membaca jurnal elektronik, menyusun laporan, menghadiri rapat virtual, maupun berkomunikasi melalui media digital menyebabkan durasi paparan layar semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Tidak jarang seseorang menghabiskan lebih dari lima jam sehari di depan perangkat digital tanpa jeda yang cukup bagi mata untuk beristirahat. Untungnya, sebagian besar keluhan dapat dicegah melalui perubahan kebiasaan sederhana.
Salah satu metode yang banyak direkomendasikan adalah aturan 20-20-20, yaitu mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar enam meter selama 20 detik setiap 20 menit penggunaan layar.
Kebiasaan ini membantu mengurangi ketegangan otot mata dan memberikan kesempatan bagi mata untuk beristirahat.
Selain itu, penting untuk membiasakan diri berkedip secara sadar ketika menggunakan perangkat digital.
Posisi layar sebaiknya diatur sedikit lebih rendah dari garis pandang mata agar permukaan mata tidak terlalu terbuka. Pengaturan pencahayaan yang baik, menjaga jarak pandang yang nyaman, serta mengurangi penggunaan perangkat digital yang tidak diperlukan juga dapat membantu mengurangi risiko munculnya keluhan.










