Mata Kering di Era Digital: Ketika Layar Menjadi Bagian dari Hidup Kita

IMG-20260604-WA0030
Aktivitas di layar digital. (Ils/ist)

KEMAJUAN teknologi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Berbagai aktivitas yang dahulu dilakukan secara langsung kini banyak beralih ke layar digital.

Komputer, laptop, tablet, dan telepon pintar telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat dampak kesehatan yang sering luput dari perhatian, salah satunya adalah sindrom mata kering (dry eye disease).

Sindrom mata kering merupakan kondisi ketika jumlah atau kualitas air mata tidak cukup untuk menjaga kelembapan permukaan mata secara optimal. Air mata memiliki peran penting dalam melindungi dan menutrisi permukaan mata serta menjaga kenyamanan penglihatan.

Ketika keseimbangan ini terganggu, berbagai keluhan dapat muncul, seperti mata terasa kering, perih, panas, kemerahan, berair berlebihan, hingga penglihatan yang menjadi kabur.

Mata kering dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pertambahan usia, perubahan hormonal, penggunaan obat-obatan tertentu, maupun beberapa penyakit sistemik.

Namun, meningkatnya penggunaan perangkat digital dalam kehidupan modern turut berkontribusi terhadap bertambahnya jumlah penderita mata kering.

Saat menatap layar dalam waktu lama, seseorang cenderung berkedip lebih jarang dibandingkan saat melakukan aktivitas sehari-hari lainnya. Padahal, setiap kedipan berfungsi menyebarkan lapisan air mata ke seluruh permukaan mata. Ketika frekuensi berkedip menurun, penguapan air mata meningkat sehingga mata lebih mudah mengalami kekeringan dan iritasi.

Selain mata kering, penggunaan perangkat digital yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan keluhan yang dikenal sebagai digital eye strain atau ketegangan mata digital.

Kondisi ini ditandai dengan mata lelah, rasa tidak nyaman di sekitar mata, sulit fokus, sakit kepala, hingga penglihatan kabur setelah bekerja atau belajar dalam waktu yang lama.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keluhan-keluhan tersebut semakin sering ditemukan pada individu yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar.

BACA JUGA:  Peringati Hari Donor Darah Sedunia, ACE Batubulan Gelar Donor Darah Bersama Karyawan dan Customer

Mahasiswa dan pekerja termasuk kelompok yang rentan mengalami masalah ini. Aktivitas seperti mengikuti perkuliahan daring, membaca jurnal elektronik, menyusun laporan, menghadiri rapat virtual, maupun berkomunikasi melalui media digital menyebabkan durasi paparan layar semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Tidak jarang seseorang menghabiskan lebih dari lima jam sehari di depan perangkat digital tanpa jeda yang cukup bagi mata untuk beristirahat. Untungnya, sebagian besar keluhan dapat dicegah melalui perubahan kebiasaan sederhana.

Salah satu metode yang banyak direkomendasikan adalah aturan 20-20-20, yaitu mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar enam meter selama 20 detik setiap 20 menit penggunaan layar.

Kebiasaan ini membantu mengurangi ketegangan otot mata dan memberikan kesempatan bagi mata untuk beristirahat.
Selain itu, penting untuk membiasakan diri berkedip secara sadar ketika menggunakan perangkat digital.

Posisi layar sebaiknya diatur sedikit lebih rendah dari garis pandang mata agar permukaan mata tidak terlalu terbuka. Pengaturan pencahayaan yang baik, menjaga jarak pandang yang nyaman, serta mengurangi penggunaan perangkat digital yang tidak diperlukan juga dapat membantu mengurangi risiko munculnya keluhan.

Apabila keluhan terus berlanjut atau semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan ke dokter spesialis mata perlu dilakukan. Gejala yang menetap, tidak membaik dengan perawatan mandiri, disertai nyeri, kemerahan yang berat, atau penurunan penglihatan dapat menjadi tanda adanya masalah lain yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Perangkat digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mata menjadi tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.

Dengan penggunaan perangkat digital yang lebih bijak dan kebiasaan sederhana untuk melindungi mata, kita dapat tetap produktif tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan penglihatan.***

BACA JUGA:  Minimalisir Mual dan Muntah pada Ibu Hamil melalui Terapi Komplementer Akupresur

Penulis: dr. Made Padma Diani Putri.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top