Lewat ‘Kembang’, Sastrawan Oka Rusmini Suarakan Martabat Penyintas Perempuan 1965

Oka-Rusmini
Oka Rusmini.

DENPASAR-fajarbali.com | Sastrawan dan jurnalis ternama Indonesia, Oka Rusmini, resmi merilis karya terbarunya bertajuk Kembang (Gramedia Pustaka Utama, 2026). Buku ini menjadi penanda penting dalam pendewasaan estetik dan politis Oka setelah empat dekade konsisten mengkritik tatanan patriarki dan adat. Berbeda dari karya-karya sebelumnya yang bertumpu pada konflik terbuka, Kembang mengambil jalan yang lebih sunyi melalui pendekatan mikrosejarah (microhistory). Karya ini secara mendalam menggali trauma tersembunyi para perempuan penyintas peristiwa 1965, memperlihatkan bagaimana ingatan mereka kerap terhapus dari panggung sejarah formal akibat kuasa politik, agama, dan tradisi.

Secara teknis, buku puisi ini dirancang dengan gaya kepenulisan yang sangat rigid dan terukur. Mirna Yulistianti, Editor Senior Gramedia Pustaka Utama, menilai karya ini sebagai sebuah pencapaian yang arsitektural. "Oka memperlakukan teks layaknya bangunan presisi yang dirancang dengan tata ruang bahasa efisien, fondasi mitologi-budaya yang kukuh, serta struktur elemen yang saling mengunci secara fungsional," ungkap Mirna. Setiap pilihan kata tidak sekadar dirangkai sebagai ungkapan emosi yang cair, melainkan difungsikan sebagai pilar politis yang kokoh untuk memikul beban naratif dari kisah hidup dua penyintas 1965, Kaminah dan Kusdalini.

Proses kreatif Kembang dipicu oleh perjumpaan emosional Oka dengan film dokumenter You and I (2020) karya Fanny Chotimah yang merekam kesahajaan Kaminah dan Kusdalini di Solo. Terinspirasi dari karya tersebut serta berbagai literatur akademik, Oka membedah trauma berlapis yang dihadapi penyintas perempuan. Bagi mereka, membicarakan 1965 berarti membangkitkan kembali ingatan penyiksaan fisik dan kekerasan seksual. Demi melindungi keluarga dari stigma sosial, para perempuan ini memilih bertahan hidup dalam ruang domestik. Sikap diam lantas dijadikan perisai utama agar publik tidak kembali mengusik kehidupan yang telah mereka bangun kembali dengan susah payah.

BACA JUGA:  Karya Ngenteg Linggih di Pura Pasek Punduk Dawa Diyakini Beri Vibrasi Positif untuk Bali

Secara estetik, Oka memperkenalkan langgam baru bernama "Mistisisme-Domestik" yang mengawinkan diksi arkaik magis dengan kenyataan ruang domestik yang brutal. Oka secara sadar membenturkan keindahan bunga dengan anyir darah, bau ompol, dan tubuh yang menua. Tak hanya itu, Oka menerapkan strategi dekonstruktif berupa penggunaan huruf nonkapital (all-lowercase) secara menyeluruh untuk memberi ruang bagi aliran kesadaran (stream of consciousness) yang jujur dan demokratis. Tubuh penyintas diubah menjadi ekosistem makna yang menyimpan jejak sejarah, sekaligus meruntuhkan logosentrisme serta hierarki bahasa yang kaku dalam sastra.

Buku ini menjadi bentuk gugatan terbuka terhadap absennya negara dalam menyelesaikan trauma sejarah masa lalu. "Menulis Kembang bukan lagi sekadar urusan estetika. Saya harus menyatukan param, usia tua, tubuh yang rapuh, kesepian, kerupuk, param dan soto dengan tato arit serta jeruji. Saya tidak hanya menggugat budaya yang kasatmata, tetapi juga menggugat keheningan negara atas trauma sejarah," tegas Oka Rusmini. Penulisan karya ini disebutnya sebagai ritual ziarah intelektual yang menguras batin, bertujuan untuk merebut kembali kedaulatan memori para korban yang selama puluhan tahun disenyapkan oleh narasi tunggal penguasa.

Judul Kembang hadir sebagai metafora ironis; sesuatu yang identik dengan kelembutan bertransformasi menjadi simbol ketangguhan perempuan yang tetap tumbuh di atas retakan sejarah. Pada akhirnya, Kembang bukan sekadar karya sastra, melainkan instrumen keadilan dan sarana rekonsiliasi kultural. Di tengah buntu atau lambatnya penegakan hukum formal, karya monumental ini berhasil mengusik zona nyaman masyarakat, merawat luka sejarah, dan mengembalikan martabat kemanusiaan para penyintas 1965 di masa senja mereka secara utuh dan terhormat. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top