Masuki Hari Ketujuh, Warga Bersama Tim Terus Lakukan Pembersihan Material

mterial
Pelaksanaan pembersihan material banjir bandang yang masih menutupi sekolah Dasar (SD) Negeri 5 Banjar

BULELENG-fajarbali.com | Memasuki hari ke tujuh masyarakat Desa Banjar, Kecamatan Banjar bersama tim gabungan baik dari unsur TNI, Polri, BPBD, Pramuka melakukan pembersihan terhadap material sisa banjir bandang yang hingga kini masih menutupi rumah warga, sekolah dan fasilitas umum yang terdampak banjir bandang.

Tampak para tim gabungan melakukan pembersihan terhadap Sekolah Dasar (SD) Negeri 5 Banjar yang masih tertutup oleh lumpur dan beberapa material yang terbawa oleh banjir.

Banjir bandang yang menimpa Desa Banjar, Kecamatan Banjar pada Jumat 6 Maret 2026 menyebabkan puluhan rumah warga, fasilitas umum, jalan menjadi rusak parah serta empat orang warga masyarakat hanyut terbawa banjir, tiga diantaranya telah ditemuakan dalam kondisi meninggal dunia dan hingga kini satu warga atas nama Putu Wini (17) masih dilakukan pencarian akibat hantaman banjir bandang yang terjadi sekitar pukul 19.45 wita itu.

Salah satu warga masyarakat bernama Ketut Sabtu Sukarta menjelaskan bahwa saat banjir bandang datang semua tidak terduga. Hujan deras yang disertai oleh kilap terjadi. Selang satu jam, banjir datang dengan suara gemuruh keras dengan membawa material seperti lumpur, kayu berukuran besar, batu langsung menghantam rumah warga utamanya yang ada di daerah pesisir sungai Mendaum.

“Saat itu terjadi hujan begitu deras yang disertai oleh petir. Tentu saja warga Sebagian besar diam dirumah. Selang satu jam kemudian terdengar gemuruh yang begitu keras seperti pesawat jet sedang meluncur. Ternyata hal itu merupakan banjir bandang yang datang dengan membawa material lumpur, batu, kayu menghantam rumah warga,”ucapnya menceritakan awal banjir bandang.

Lebih jauh tutur Sabtu hingga memasuki hari ketujuh material yang menghantam rumah warga masih dilakukan pembersihan. Lumpur yang menggenangi rumah warga hingga tebalnya satu meter hal itu dirasa sangat sulit dan membutuhkan tenaga yang maksimal dalam melakukan pembersihan.

BACA JUGA:  Hut Kota Singaraja, K3S Buleleng Serahkan Paket Sembako Kepada Lansia dan Pasien Kurang Mampu

“Bayangkan saja lumpur yang hingga kini menggenangi rumah kami hampir satu meter tebalnya, belum lagi material yang lain seperti batu, kayu yang menumpuk disetiap rumah warga hal ini menjadi kesulitan kami membersihkan,”akunya.

Akibat banjir tersebut membuat semua warga yang terdampak kehilangan peralatan rumah tangga seperti kompor hingga tempat tidur lenyap terbawa arus banjir bandang. Hampir setiap tahun utamanya dimusim penghujan aliran Sungai Saba meluap namun yang paling parat ditahun sekarang.

“Hampir setiap tahun aliran Sungai Tukad Saba meluap utamanya dimusim penghujan. Kejadian seperti ini sempat terjadi ditahun 2007 silam namun Cuma lima atau lebih rumah yang terdampak. Sempat ada wacana akan dilakukan penyenderan terhadap aliran Sungai namun sampai sekarang hingga kejadian banjir paling parah terjadi di tahun ini penyenderan terhadap aliran Sungai belum dilakukan,”sorot Sabtu protes.

Bahkan dirinya memohon kepada pemerintah agar nantinya bisa menanggulangi terhadap aliran Sungai Mendaum yang kerap terjadi banjir bandang dilakukan penyenderan serta tidak lagi terjadi bencana atau peristiwa yang menelan korban jiwa kembali.

“Ya yang menjadi harapan kami kepada pemerintah agar segera dilakukan penataan serta penyenderan terhadap aliran Sungai Mendaum yang kerap terjadi banjir bila musim penghujan dan tidak lagi menelan korban jiwa lagi,”tutupnya. @gus

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top